2. Pengaruh Pendudukan Jepang di Jambi
A. Menjelang Jepang Datang
Sebelum
Perang Asia Timur Raya meletus, keadaan Pemerintah Hindia-Belanda di daerah
Jambi, tidak banyak mengalami perubahan. Pulau Sumatera pada waktu Jepang masuk
ke Indonesia dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal yang membawahi sepuluh
keresidenan. Masing-masing keresidenan dipimpin oleh seorang Residen. Kesepuluh
keresidenan tersebut adalah sebagai berikut ;
1.
Keresidenan
Aceh (Kutaraja)
2.
Keresidenan
Tapanuli Sibolga)
3.
Keresidenan
Sumatra Timur (Medan)
4.
Keresidenan
Riau Tanjung (Pinang)
5.
Keresidenan
Jambi (Jambi)
6.
Keresidenan
Sumatra Barat (Padang)
7.
Keresidenan
Palembang (Palembang)
8.
Keresidenan
Bengkulu (Bengkulu)
9.
Keresidenan
Lampung (Teluk Betung)
10. Keresidenan Bangka dan Belitung
(Pangkal Pinang)
Residen
Jambi berkedudukan di Kota Jambi, yang di dalam menjalankan pemerintahannya
dibantu oleh dua (2) orang Asisten Residen. Asisten Residen ini pada dasarnya
merupakan Wakil Residen dalam mengkoordinasi beberapa onder afdeling. Selain
itu pada kantor keresidenan, seorang Residen dibantu oleh sekretaris
keresidenan, yang membawahi beberapa orang komisaris, yang kebanyakan terdiri
dari orang Belanda. Pegawai-pegawai rendahan seperti klerk dan
bawahan-bawahannya diisi oleh orang-orang Indonesia. Struktur Keresidenan Jambi
adalah sebagai berikut ;
1)
Keresidenan Jambi ketika itu mengenal dua (2) Asisten Residen, yaitu :
1.
Asisten
Residen Bangko
2.
Asisten
Residen Ilir
2)
Asisten Residen Bangko, membawahi empat (4) onder afdeling, yaitu :
1.
Onder
afdeling Muara Tebo
2.
Onder
afdeling Muara Bungo
3.
Onder
afdeling Sarolangun
4.
Onder
afdeling Bangko
3)
Asisten Residen Ilir, membawahi tiga onder afdeling, yaitu :
1.
Onder
afdeling Jambi
2.
Onder
afdeling Muara Tembesi
3.
Onder
afdeling Taman Rajo Tungkal Ulu
4)
Sedangkan onder afdeling Kerinci ketika itu tidak lagi masuk ke dalam
Keresidenan Jambi, dan sejak tahun 1922 dimasukkan ke dalam Keresidenan Sumatra
Barat.Daerah onder afdeling ini dikepalai oleh kontrolir. Semua kontrolir di
daerah Jambi terdiri dari orang-orang Belanda. Dalam menjalankan tugasnya
kontrolir dibantu oleh Demang (districthoofd), dan
Asisten Demang (onderdistricthoofd). Demang dijabat oleh pribumi.
Demang
dibantu oleh seorang juru tulis, klerk, magang, opas, mantri belesting, dan
mantri polisi. Sedangkan Asisten Demang dibantu oleh seorang seorang juru
tulis, seorang magang, dan seorang opas. Untuk menjalankan pemerintahan desa
atau marga, maka Asisten Demang dibantu oleh Pasirah Kepala Marga. Di Kerinci
pemerintahan desa ini disebut mendapo atau kemendapoan, yang dikepalai oleh Kepala Mendapo. Pasirah Kepala Marga dan Kepala Mendapo ini
mengkoordinasi unit pemerintahan yang terkecil yakni dusun atau kampung.
Dari uraian
di atas jelas bahwa jabatan kontrolir ke atas, semuanya dipegang oleh
orang-orang Belanda (Europese Bestuur Ambtenaren). Sedangkan
dari Demang (districthoofd) ke bawah digolongkan kepada jabatan yang
boleh diduduki oleh bumi putra atau inlandse Bestuur Ambtenaren.Sebenarnya
pada masa ini, pemerintahan marga di daerah Jambi sudah harus mempunyai raad yang disebut Marga Raad seperti
diatur dalam IGOB, dan di kota-kotaonder afdeling ada locale-raad, yang diketuai oleh Kontrolir, dan Jambi raad untuk mendampingi residen, yang
anggota-anggotanya ditunjuk oleh residen dan disetujui oleh Gubernur Sumatra.
Namun sampai saat keruntuhan pemerintahan Hindia-Belanda di daerah ini
dewan-dewan atau raad tersebut tidak pernah
terlaksana pembentukannya.
Pada masa
itu semua kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan pemerintahan, sosial,
ekonomi diatur, dikuasai dan dilaksanakan oleh aparat pemerintahan marga raad, locale raad, dan gementee raad tidak
pernah dilaksanakan pembentukannya oleh Belanda.Dengan tiada dibentuknya marga raad, maka untuk menyelesaikan persoalan berat yang
dihadapi pemerintah dan rakyat di daerah maka kontelir yang biasanya mengadakan
satu sidang atau musyawarah untuk anggotanya terdiri dari Demang, Asisten
Demang, Pasirah Kepala Marga atau Kepala Kemendapoan, dan Kepala Kampung, atau
Kepala Dusun.
A. Propaganda Jepang
Jepang telah
mempunyai persiapan yang cukup matang untuk menghadapi Belanda di seluruh
Indonesia termasuk tentunya daerah Jambi. Sebelum tentara Jepang masuk, radio
Jepang telah terlebih dahulu melancarkan serangan propaganda terhadap Belanda.
Pada tiap permulaan dan penutupan siarannya, radio Jepang menyiarkan lagu
Kebangsaan “Indonesia Raya”. Dalam siaran radio propaganda Jepang dalam bahasa
Indonesia menyiarkan bahwa Perang Asia Timur Raya, untuk mengusir penjajah
Belanda yang sudah bercokol tiga ratus lima puluh tahun lamanya. Tujuan Perang
Asia Timur Raya, yang dilakukan Dai Nippon adalah untuk kemerdekaan Indonesia
dan kemakmuran rakyat Indonesia. Dai Nippon mengajak rakyat Indonesia untuk
bersama-sama bangkit menghancurkan penjajahan, dengan semboyan “Asia untuk
bangsa Asia”. Siaran radio Jepang ini oleh rakyat di daerah yang mempunyai
radio, disebarluaskan pula kepada rakyat yang tidak mendengarnya.
Di Kota
Jambi dan Sungai Penuh Kerinci, di mana penduduk sudah ada mempunyai radio,
propaganda Jepang lebih dahulu masuk dan tersiar serta menyebar di kalangan
penduduk. Rakyat banyak yang belum mempunyai radio, mengetahui
propaganda-propaganda Jepang melalui penduduk yang mempunyai radio dan
mengetahui propaganda itu. Di Sungai Penuh, Tuan Niko, seorang fotograp yang
bergaul baik dengan rakyat setempat turut menyebarkan apa yang diketahuinya
dari radio Jepang kepada penduduk.Dengan adanya propaganda-propaganda Jepang
melalui radio, dan kemudian oleh rakyat turut disebarluaskan, maka rakyat di
daerah secara spontan menanggapinya dengan perasan lega, bahwa Jepang akan
mengusir Belanda.
Ketika
tentara Jepang masuk ke daerah ini propaganda-propaganda Jepang terus
berlangsung. Kepada penduduk dikabarkan Jepang adalah saudara tua yang akan
membantu rakyat, dan dijanjikan pula oleh Jepang bahwa barang-barang akan
menjadi murah.Sudah tentu di kalangan penduduk Jambi ketika itu ada yang
terbius oleh propaganda Jepang, dan menyanjung-nyanjung Jepang setinggi langit,
tetapi ada juga yang menerima propaganda Jepang tersebut secara wajar, dan
tetap mempunyai semangat nasionalisme, dan patriotisme bangsa Indonesia, yang
berkeyakinan bahwa kemerdekaan Indonesia hanya dapat diperoleh dengan kekuatan
sendiri.
B. Waktu Kedatangan Jepang
Adapun
tentara angkatan darat Jepang dipimpin oleh Kolonel Namura, masuk ke daerah
Jambi melalui daerah Palembang dan Padang. Palembang jatuh ke tangan tentara
Jepang pada tanggal 14 Februari 1941. Dari Palembang tentara Jepang menyerbu
masuk Lubuk Linggau, yang jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 21 Februari 1942.
Setelah Jepang menduduki Muara Rupit tanggal 23 Februari 1942, kemudian diikuti
Sarolangun Rawas pada tanggal 24 Februari 1942, tentara Jepang menyerbu masuk
wilayah daerah Jambi.
Dari daerah
Palembang tersebut di atas, serbuan tentara Jepang di arahkan ke Sarolangun
Jambi, dan dapat diduduki tanggal 23 Februari 1942. Sehari kemudian Bangko dan
Rantau Panjang diduduki pula. Kemudian Muara Bungo diserang oleh Belanda dan
setelah pertempuran sehari semalam dengan pasukan Belanda, tanggal 28 Februari
dapat diduduki oleh Jepang. Sedangkan Muara Tebo, baru diduduki tentara Jepang
tanggal 4 Maret 1942. Di Muara Tebo tentara Jepang dibagi atas dua bagian, satu
bagian bertugas untuk menyerang Kota Jambi, pusat pemerintahan dan sebagian
lagi untuk menyerang pertahanan tentara Belanda di Pulau Musang. Dalam
pertempuran di Pulau Musang Kolonel Namura sendiri tewas, dan tentara Jepang di
bawah pimpinan Kapten Oreta dapat menduduki Jambi pada tanggal 4 Maret 1942.
Padang
diduduki Jepang pada tanggal 17 Maret 1942. Setelah itu daerah Kerinci dimasuki
dan diduduki oleh tentara Jepang yang datang dari Padang.Kedatangan Jepang,
pada umumnya disambut dengan perasaan lega dan puas. Rakyat Jambi puas melihat
orang-orang dan tentara Belanda melarikan diri, dan banyak rakyat turut serta
merampas harta kekayaan orang-orang Belanda yang melarikan diri. Jepang sudah
tentu pada hari-hari pertama pendudukannya tidak bersikap keras kepada
penduduk. Penduduk yang merampas barang-barang milik Belanda oleh Jepang
diminta untuk mengembalikannya di pinggir-pinggir jalan, yang oleh sebagian
rakyat dituruti, dan ternyata dikumpulkan oleh tentara Jepang untuk keperluan
dan kebutuhan mereka.
D.Sikap Jepang Terhadap Belanda
Setelah di
seluruh daerah Jambi dapat dikuasai oleh Jepang dalam waktu yang sangat
singkat, maka pada tanggal 10 Maret 1942, disusunlah pemerintahan oleh badan
tentara Jepang. Pada dasarnya susunan ketatanegaraan Belanda masih tetap
dipertahankan, dengan perubahan-perubahan kecil antara lain perubahan nama dan
istilah yang diganti dengan nama atau istilah Jepang. Semua istilah pemerintahan diganti dalam bahasa Jepang.
Keresidenan ditukar dengan syu, residen disebut syucokan, afdeeling disebut
bunsyu yang dikepalai oleh bunsyu-co, onder-afdeeling ditukar dengan gun.
Dengan demikian pada masa Jepang di Jambi, Syucokan membawahi enam Bunsyu-co
yaitu :
1.
Bunsyu-co
Bungo berkedudukan di Muara Bungo
2.
Bunsyu-co
Tebo berkedudukan di Muara Tebo
3.
Bunsyu-co
Tungkal berkedudukan di Kuala Tungkal
4.
Bunsyu-co
Tembesi berkedudukan di Muara Tembesi
5.
Bunsyu-co
Sarolangun berkedudukan di Sarolangun
6.
Bunsyu-co
Bangko berkedudukan di Bangko
Sedangkan
Bunsyu-co Kerinci termasuk Sumatra Barat syu, maka Bunsyu-co Kerinci berada
dibawah Syu-Cokan Sumatra Barat.Setiap Bunsyu-co sebagai pengganti kontelir, membawahi
beberapa demang yang disebut Gun-co. Kemudian Gun-co membawahi pula Fuku
gun-co. Aparat selanjutnya adalah marga di Jambi dan mendapo di Kerinci.
Dalam
pelaksanaan pemerintahan, Jepang mengganti semua orang Belanda (Europese
Bestuur Ambtenaren) dengan personal-personal Jepang, sedangkan untuk jabatan gun-co
ke bawah Jepang tetap menggunakan tenaga-tenaga bumi putra. Karena
pejabat-pejabat Belanda sudah dicopot, sedangkan pejabat-pejabat Jepang tidak
paham berbahasa Indonesia, maka di kantor-kantor pejabat-pejabat Indonesia pada
realitasnya adalah wakil pejabat Jepang. Mereka bekerja bersama Jepang tetapi
saling mencurigai, dan oleh karena itu suasana kegelisahan dan kekhawatiran
meliputi pejabat-pejabat bumi putra. Hal ini disebabkan karena sedikit
kesalahan dan kelalaian dapat berakibat fatal bagi mereka, sebab Jepang
terkenal ganas
C. Sikap Jepang Terhadap Bangsa Indonesia
Sikap Jepang
terhadap bangsa Indonesia banyak ditentukan oleh keadaan perang dan segenap
keperluan dan kebutuhan yang berkaitan dengan perang itu yaitu Jepang
memerlukan tenaga manusia, bahan makanan, dan bahan-bahan vital keperluan
perang seperti minyak bumi.Karena kebutuhan minyak bumi sangat diutamakan
Jepang, maka instalasi minyak di Kenali Asam, Tempino, dan Bajubang dapat diperbaiki
oleh Jepang. Karena bumi hangus yang kurang sempurna sewaktu Belanda
merenggutkannya.
Memang pada
hari-hari permulaan datangnya tentara Jepang, tindakan kejam terhadap rakyat
tidak dilakukan oleh Jepang. Tetapi lama-kelamaan, rakyat dipaksa untuk memenuhi
kebutuhan perang tentara Jepang, seperti menanam biji-biji jarak di pinggir
jalan, dan membuat lubang-lubang pertahanan. Pohon-pohon karet banyak yang
ditebang, rakyat diperintahkan untuk menanam padi, jagung, ubi dan bahan pangan
lainnya untuk keperluan Jepang, bahkan pangan yang ada di tangan rakyat
sekalipun harus diserahkan kepada Jepang.
Dalam pada
itu Jepang menghambur-hamburkan uang kertas Jepang sebagai pengganti mata uang
Belanda, akibatnya harga barang-barang menjadi naik. Harga pangan di luar
jangkauan daya beli rakyat, apa lagi harga sandang.
Kemakmuran
yang dijanjikan Jepang ternyata bagi rakyat Jambi adalah kemiskinan dan
kelaparan. Karena kemiskinan rakyat tak dapat membeli sandang terutama pangan.
Ketika ini rakyat banyak yang memakai goni sebagai pakaian. Bahaya kelaparan
sebagai akibat tindakan dan sikap Jepang timbul di mana-mana, dan tidak sedikit
yang meninggal dunia. Orang yang meninggal dunia dikafani dengan tikar.
Di samping
itu Ken-pei-tai menyebarkan mata-mata dan kaki tangan yang juga disebut
Ken-pei-ho di mana-mana, penduduk yang dicurigai ditangkap dan disiksa oleh
Ken-pei-tai.
Kemudian
tenaga rakyat juga dikerahkan untuk keperluan perang Jepang. Romusya dan
Kinrohosyi, paling ditakuti dan mengerikan buat rakyat Jambi. Karena rakyat
yang masuk Romusya dikerjakan secara paksa dan dikirim ke Burma, sedangkan
masuk Kinrohosyi juga berarti ke luar daerah Jambi untuk bekerja secara paksa
demi kepentingan tentara Jepang, rakyat Jambi yang terkena Kinrohosyi
dipekerjakan membangun lapangan terbang di Palembang.
Selain
Romusya dan Kinrohosyi, rakyat juga dikerahkan menjadi Heiho, Gyu Gun, yakni
pasukan militer yang diperbantukan pada tentara Jepang, untuk pertahanan lokal,
Jepang juga membentuk Sei-nen-dan, Bo-go-dang, dan Jei-ge-dang, yang semuanya
dipaksakan kepada rakyat.
Adapun Hei
Ho yakni pasukan militer yang akan bertugas membantu tentara Jepang, terdiri
atas dua angkatan. Angkatan pertama dididik enam puluh orang pemuda daerah ini,
dan dari angkatan pertama ini tiga puluh orang lagi di Payakumbuh, angkatan
kedua juga terdiri dari enam puluh orang, dan dari angkatan kedua ini, tiga
puluh orang mendapatkan latihan Hei Ho, di Plaju, Palembang, dan selebihnya
mendapat latihan di Bengkulu.
Sedangkan
latihan-latihan Gyu-gun, Sei-nen-da, Bo-Godang, Jei ge dang dilakukan di Jambi.
Pada hakikatnya Jepang, dengan adanya latihan-latihan militer ini telah pula
secara tidak sengaja membekali rakyat daerah ini dengan pengetahuan militer.
Sikap Bangsa Indonesia Terhadap Jepang
Pada mulanya
sikap bangsa Indonesia menerima dengan wajar dan gembira kedatangan Jepang,
namun setelah kekejaman fasis Jepang yang menimbulkan kesengsaraan yang luar
biasa maka timbullah kembali hasrat akan memerdekakan Indonesia.
Pemuda
rakyat yang sudah dilatih Jepang dalam Heiho, Gyu gun, Sei-nen-dan, Bo-go-dang,
Jei-ge-dang, turut merasakan penderitaan rakyat dan penduduk sebagai akibat
dari segala macam tindakan pihak Jepang berupa penindasan, perkosaan, dan
sebagainya menjadi modal perlawanan atau pemberontakan di mana-mana terhadap
Jepang. Rakyat sebenarnya sudah mengadakan persiapan secara diam-diam, kemudian
secara terang-terangan. Dengan demikian pemberontakan-pemberontakan yang
ditujukan kepada kekuasaan pemerintah militer Jepang dilakukan baik oleh rakyat
maupun oleh unit-unit bersenjata yang pernah mendapat latihan Jepang maupun
oleh kedua-duanya secara bersama-sama. Perlawanan dan pemberontakan ini terjadi
di antaranya di Muara Bungo, Bajubang, dan sebagainya.
Kegiatan ini
mencapai klimaks setelah tersiar kabar Jepang menyerah kalah pada tanggal 14
Agustus 1945 yang diikuti dengan Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta,
pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi diketahui oleh rakyat di daerah Jambi
pada tanggal 18 Agustus 1945, melalui telepon dari A.K. Gani di Palembang.
Di Muara
Bungo, pemuda-pemuda menyusun organisasi untuk menjaga keamanan umum. Badan
Penjaga Keamanan telah berdiri sejak 16 Agustus 1945 diketuai oleh Haji
Badaruddin Yahya mengambil alih kekuasaan dari Jepang. Beberapa orang Jepang
yang menghalang-halangi digempur oleh pemuda. Harta benda dan senjatanya
diserahkan kepada negara. Persiapan minyak yang disimpan Jepang untuk keperluan
perangnya diambil alih dan digunakan untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan.
Di Kerinci
perlawanan rakyat sesudah Proklamasi dilakukan karena kebencian yang mendalam
terhadap Jepang yang bertindak sewenang-wenang selama pendudukan, dengan tekad
untuk merdeka dan berdaulat. Serangan rakyat dilakukan terhadap markas Jepang
di muka lapangan merdeka, Sungai Penuh. Para pemimpin dari perlawanan rakyat
Kerinci ini antara lain A. Thalib, KH. Adnan Thaib, KH. Janan Thaib Bakri, H.
Mukhtaruddin, dan H. Ridwan.
Di
daerah-daerah lain di mana Jepang dengan suka rela menyerahkan kekuasaannya
tidak terdapat perlawanan atas perebutan kekuasaan. Kalahnya Jepang dari sekutu
dalam Perang Asia Timur Raya membuka Pintu Kemerdekaan Indonesia yang menjadi
cita-cita Pergerakan Nasional Indonesia.
Jepang Masuk
Struktur dan
aparat pemerintah Hindia-Belanda di daerah Jambi seperti tersebut di atas,
ketika Perang Dunia II, dan sebelum Perang Asia Timur Raya meletus dihadapkan
kepada kedua tantangan kenyataan, yang timbul pada saat itu yakni ;
1.
Kenyataan
dari perkembangan pergerakan nasional di daerah.
2.
Ancaman
serbuan tentara Jepang ke daerah ini, yang di dahului dengan
propaganda-propagandanya menakutkan Belanda.
Jauh sebelum
Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 dalam
perundingan di Kalijati, Bandung, tentara selatan Jepang telah menguasai
Singapura. Setelah menguasai Singapure maka Jepang menempatkan Singapura
sebagai pusat tentara selatan (Nampo Gun) dibawah komando Jenderal Trauchi
Hisoichi.
Salah satu kesatuan bawahan tentara selatan adalah
Tentara Keenam Belas yang wilayah operasinya adalah daerah Hindia Belanda.
Komandan tentara Keenam Belas adalah Imamora Hitochi. Tentara
Keenam Belas terbagi ke dalam divisi dengan wilayah operasinya masing-masing.
Divisi ke-38 terdapat satu brigade yang ditugaskan mendarat di Palembang dan
sekitarnya termasuk daerah Jambi.
Jepang masuk dan mulai menguasai Jambi pada
tanggal 4 Maret 1942. Menurut penuturan masyarakat kehadiran Jepang
di kota Jambi lama sekali tidak ada perlawanan dari Belanda. Sebelum Palembang
jatuh ke tangan Jepang tanggal 14 Pebruari 1942, Belanda telah meninggalkan
kota Jambi menuju pulau Jawa (Batavia). Sedangkan rakyat Jambi sendiri sebagai
akibat penjajahan Belanda tidak lagi memiliki institusi/ kelembagaan yang mampu
menghimpun perjuangan rakyat seperti zaman Sultan Thaha Syaifuddin, yang ada
adalah institusi pemerintahan adat yang dipegang oleh priayi dan pegawai negeri
(ambtenar). Keadaan inilah yang melapangkan jalan masuknya tentara Jepang dapat
dengan mudah mengambil alih pemerintahan Hindia Belanda di Jambi. Namun
demikian ada juga perlawanan rakyat Jambi menentang tibanya Jepang. Peperangan
hebat terjadi di sekitar Pulau Musang. Tetapi karena memiliki persenjataan yang
kurang, maka perlawanan ini tidak berarti penting karena itu dengan mudah dapat
dipatahkan Jepang.
Setelah
Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, maka pihak Jepang melakukan
reorganisasi tentara selatan (Nampo Gun). Jepang membentuk tiga Human Gun
(tentara wilayah). Satu untuk Birma, satu untuk Indonesia dan satu lagi untuk
Malaya. Pasukan Jepang di pulau Sumatra di bawah komando tentara Kedua Puluh
Lima. Pembagian wewenang terhadap wilayah Indonesia, dibagi sebagai berikut ;
1.
Angkatan
darat oleh tentara Kedua Puluh Lima dan tentara Keenam Belas yang punya
wewenang atas pulau Sumatra dan Jawa.
2.
Angkatan
laut oleh Armada Ketiga (Armada Wilayah Barat daya) atau Nansei Human Kintai,
punya wewenang atas pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan
Irian.
Kemudian
Jepang setelah menguasai seluruh Wilayah Hindia Belanda, maka pemerintahan
Militer Jepang membagi Indonesia Ke dalam 3 wilayah pemerintahan Militer yang
berbeda yakni ;
1.
Wilayah
Sumatra dikuasai Angkatan Darat (Rikugun) oleh Komando tentara Kedua Puluh
Lima, pusatnya di Bukit Tinggi.
2.
Wilayah Jawa
dan Madura dikuasai oleh Angkatan Darat oleh Komando tentara Keenam Belas,
pusatnya di Jakarta.
3.
Wilayah
Kalimantan dan Indonesia Timur dikuasai oleh Angkatan Laut (Kaigun) pusatnya di
Makasar.
Masyarakat
Jambi mungkin termasuk lebih dahulu mengetahui kehadiran Jepang di Asia
Tenggara, karena sifat dagangnya yang banyak bepergian ke Singapura dan Malaya.
Rakyat Jambi sama seperti masyarakat lain di Indonesia tidak gelisah, tidak
juga cemas, dan juga tidak khawatir tentang kabar bahwa Jepang sebentar lagi
akan menguasai pulau Sumatra. Diakui bahwa rakyat Jambi ada dendam kesumat
terhadap Belanda dan ingin agar Belanda lari dari Jambi. Terlebih lagi di
tengah masyarakat berkembang pendapat bahwa kehadiran Jepang tidak untuk
menjajah, melainkan untuk membebaskan saudara-saudaranya bangsa Asia dari
belenggu penjajahan bangsa Barat dan bersama-sama dengan Jepang membentuk
kemakmuran bersama di lingkungan Asia Timur Raya.
Sebelum
tahun 1942 di tengah-tengah masyarakat Jambi memang telah ada orang Jepang
sebagai buruh, pedagang, petani, dan membuka usaha perbengkelan. Mereka itu
(orang Jepang) dalam jumlah terbatas, umumnya kaum pria. Belanda mengakui
keberadaan mereka Jambi sebagai warga Timur Asing. Menurut cerita dari mulut
kemelut pada waktu tentara Jepang masuk ke Jambi ternyata masih ada penduduk
yang mengenali orang Jepang itu telah memakai seragam militer.
Lain lagi
dengan Belanda yang sangat cemas mendengar kabar sebentar lagi Jepang akan tiba
di Jambi. Kecemasan dan kegelisahan Belanda ini ternyata mudah diketahui oleh
rakyat Jambi, sebab Belanda telah gelisah sedangkan rakyat hanya biasa saja.
Dalam suasana yang cemas, gelisah, dan khawatir itu maka Belanda masih sempat
menebarkan propaganda murahan kepada rakyat di desa-desa, bahwa ;
1.
Bahwa
tentara Jepang itu sangat ganas terhadap kaum wanita.
2.
Bahwa
tentara Jepang suka merampas padi, beras, dan ternak penduduk.
Ketakutan
dan kecemasan Belanda menjelang tibanya Jepang di Jambi adalah satu kenyataan
yang logis. Selama Belanda berkuasa di Indonesia, ternyata Belanda tidak
membangun pasukan tempur yang memiliki persenjataan lengkap. Tetapi Belanda
hanya memiliki pasukan kecil tentara dan kepolisian dalam negeri yang ditujukan
untuk menumpas pemberontakan oleh pejuang-pejuang pribumi. Sedangkan Jepang
memiliki segalanya yaitu pasukan tempur yang hebat. Sebagai persiapan menunggu
tibanya tentara Jepang, maka Belanda memerintahkan rakyat Jambi untuk :
1.
Rakyat di
pedesaan diperintahkan agar masing-masing membuat kebun ubi, jagung, pisang,
sebagai persiapan bahan makanan dalam menghadapi Jepang nantinya.
2.
Rakyat di
pedesaan diperintahkan agar masing-masing membuat rumah talang di dalam kebun
berjarak ± 3 km dari desa, sebagai persiapan menyingkir bila Jepang masuk.
Pemerintahan Jepang
Pemerintahan militer Jepang di Jambi tidak banyak
berbeda dengan struktur pemerintahan Keresidenan Jambi yang dibentuk oleh
Belanda. Pemerintahan militer Jepang di Sumatra disebut Gunsereikan yang kemudian di sebut Saiko Sikikan.
Pemerintahan diselenggarakan oleh kepala staf yang disebut Gunseikan.
Organisasi pemerintahan disebut Gunseibu yang berpusat di Singapura. Azas
pemerintahan militer Jepang adalah dekonsentrasi. Bagan atau lembaga
pemerintahan Jepang di daerah Jambi adalah sebagai berikut
Lembaga
Pemerintahan Jepang Di Jambi
|
No
|
BELANDA
|
JEPANG
|
||
|
ORGANISASI
|
PEJABAT
|
ORGANISASI
|
PEJABAT
|
|
|
1
|
Keresidenan
Jambi.
|
Rest en
dan Asistett residen (orang- Belanda).
|
Jambi
-Syuu.
|
Syuucokan.
|
|
2
|
Afdeling
(semacam kabupaten).
|
Gontroleur
(orang Belanda),
|
Buu-Syuu
(Kabupaten),
|
Buusyuuco
(Pribumi).
|
|
3
|
Order
afdeling (semacam kawasan).
|
Demang
(Pribumi).
|
Gun-Syuu (Pribumi).
|
Guu-co
(Pribumi).
|
|
4
|
Distrik
Adat Ander Distrik.
|
Asisten
Demang (Pribumi)
|
Fukugun
(Distrik Adat) KU (Marga)
|
Fukugunco
(Pribumi) Kunco
|
|
5
|
Marga,
Dusun/Mendapo /Kampung
|
Pasirah,
Rio/Penghulu
|
Son
(Dusun)
|
(Pribumi)
Sanco (Pribumi)
|
Dalam Pemerintahan
militer, terpisah dengan pemerintahan sipil. Kepolisian, Jambi-Syuu dikepalai
oleh seorang Keimubuco, dijabat oleh orang-orang Jepang. Di setiap gun dibentuk
pula kepolisian (Kaisatsu) yang dipimpin oleh orang, Jepang dengan pangkat
Kaisatsuco dan wakilnya adalah orang pribumi. Pemerintahan Jambi Syuu dibantu
penyelenggaraannya oleh kepala pemerintahan umum (Somubuco), kepala
perekonomian (Keizabuco), dan kepala kepolisian (Keimubuco). Dikutip dari buku
“Tentara Peta” karangan Nugroho Notosusanto (1979), satu dokumen konferensi
penghubung antar markas besar kemaharajaan dan kabinet pada tanggal 20 November
1941, antara lain disebutkan sebagai berikut.
1.
Sasaran
pemerintahan-pemerintahan militer adalah
I. Memulihkan ketertiban umum.
II. Mempercepat penguasaan sumber-sumber
yang vital bagi pertahanan Nasional.
III. Menjamin berdikari di bidang ekonomi
bagi personil militer.
IV. Status terakhir wilayah-wilayah yang
diduduki dan pengaturannya di masa depan akan ditentukan secara terpisah.
V. Dalam pelaksanaan pemerintahan
militer, organisasi-organisasi pemerintahan yang ada akan dimanfaatkan sebanyak
mungkin dengan menghormati struktur organisasi yang lampau dan
kebiasaan-kebiasaan pribumi.
VI. Penduduk pribumi akan dibina
sedemikian rupa sehingga mempunyai kepercayaan kepada pasukan-pasukan
Kemaharajaan dan penggairahan secara prematur daripada gerakan-gerakan
kemerdekaan pribumi harus dihindari.
Untuk menghadapi perang, Asia Timur Raya melawan
sekutu, maka kebijaksanaan Jepang terhadap wilayah pendudukan bermuara kepada
pemenangan perang. Sehingga wilayah pendudukan dieksploitasi– sedemikian agar mendukung perang melawan
sekutu. Semua potensi sosial, ekonomi, budaya, kepercayaan, lembaga dan potensi
lainnya dimanfaatkan Jepang untuk kepentingan militer. Pemerintahan militer
Jepang memanfaatkan tenaga pribumi untuk duduk dalam pemerintahan sipil. Dalam
buku sejarah pemerintahan daerah tingkat I Jambi (belum diterbitkan). Jepang
mengikutsertakan penduduk Jambi untuk duduk dalam pemerintahan antara lain
sebagai berikut ;
1.
St. Sulaiman
sebagai Gunco Sarolangun.
2.
R. Supirman,
sebagai Gunco Bangko.
3.
Kiagus M.
Amin, sebagai Gunco Muara Bungo.
4.
R.
Syahbuddin sebagai Gunco Muara Tebo.
5.
Zainal
Basri, sebagai Gunco Muara Tungkal.
6.
M. Bahsan
Siagian, sebagai Gunco Kuala Tungkal.
7.
Sutan Parendangan,
sebagai Gunco Jambi.
8.
Teuku
Muhammad Insya, sebagai Wakil Keimbuco dengan pangkat kepolisian, Keisyi.
9.
Manaf,
sebagai Staf Keimubuco dengan pangkat kepolisian Keibu.
10. Latif, sebagai staf Keisatsuco
dengan pangkat kepolisian Kaibuho.
11. Jahari, sebagai wakil Keisatsuco
Soralangun gun dengan pangkat kepolisian Keibu.
12. R. Syarif, sebagai wakil Kaisatsuco
Muara Bungo gun dengan pangkat polisi Keibu.
13. M. Kuris, sebagai wakil Kaisatsuco
Muara Tebo gun dengan pangkat kepolisian Kaibuho.
14. Darwis, sebagai wakil Keisatsuco
Muara Tembesi gun dengan pangkat kepolisian Keibuho.
15. Supardjo, sebagai Keisatsuco Kuala
Tungkal gun dengan pangkat kepolisian Keibuho.
16. Hasan St. Palindih, sebagai wakil
Keisatsuco Kuala Tungkal gun dengan pangkat kepolisian Keibu.
Untuk
merekrut tenaga kerja / pegawai pemerintahan yang memenuhi persyaratan, maka
Jepang mendirikan sekolah khusus/semacam kursus dinas C, yakni Samarora Koa
Kurensho di Batu Sangkar. Alumni sekolah ini dipersiapkan Jepang untuk menjadi
kader pemimpin pemerintahan/pegawai negeri yang disebut Katsuri, dengan pangkat
Kuco, setingkat camat. Belum diketahui berapa jumlah pemuda Jambi yang mendapat
pendidikan di sekolah ini.
Latihan Militer
Pada masa
pemerintahan Belanda, memang ada putra Jambi yang direkrut oleh Belanda di bidang
ketentaraan yakni dalam dinas Marsose. Jumlahnya sangat terbatas yang bertujuan
untuk pecah-belah dalam menghadapi perlawanan rakyat. Tetapi Jepang dalam
memberikan latihan militer kepada pribumi bertujuan lain dari Belanda, yakni
untuk mobilisasi pemuda-pemuda dalam perang melawan sekutu. Di pulau Sumatra,
termasuk Jambi maka Jepang menghimpun pemuda dalam latihan militer seperti
Gyugun (Tenaga sukarela), Kaygun (Angkatan Laut), Heiho (Pembantu Prajurit),
Kempeitai (Polisi Militer), Seinendan (Barisan Pemuda), Keibodan (Barisan
Pemuda Polisi), Jibakutai (Barisan Berani Mati), Romusha (Pekerja Paksa), dll.
Berikut ini nama-nama pemuda Jambi ang direkrut jepang untuk menjadi Gyu-gun,
Heiho atau pembantu prajurit, Kaygun atau angkatan laut, kepolisian, dan
Kempetai adalah sebagai berikut ;
1.
Pemuda Jambi
dikirim ke Pagar Alam untuk ikut latihan militer Gyu-gun selama 3-4 bulan.
Mereka yang mendapat latihan militer Nanbu Sumatora Gyukanbu Kohose antara lain
adalah sebagai berikut ;
1)
Abunjani, pangkat Shoi.
2)
Ahmad Marzuki, pangkat Shoi.
3)
Haji Ibrahim, pangkat Yun-i.
4)
Zainal Riva’i, pangkat Shoi.
5)
Switar Mahyuddin, pangkat Shoi.
6)
Mahyuddin, pangkat Shoi.
7)
lsmail Ripin, pangkat Shoi.
8)
M. Thaib RH, pangkat Soco.
9)
Buyung Malik, pangkat Soco.
10)
H. Teguh, pangkat Suco.
11)
Ramli Umar, pangkat Suco.
12)
R.A. Rahman Kadipan, pangkat Soco.
13)
R.A. Rahman, pangkat Gunsho.
14)
Darham, pangkat Soco.
15)
Mahidin, pangkat Soco.
16)
Ismail Malik, pangkat Gunsho.
17)
Lebai Hasan, pangkat Gunsho.
18)
Said Abdullah, pangkat Gunsho.
19)
Yusup AB, pangkat Gunsho.
20)
A. Somad Gerak, pangkat Gunsho.
21)
A. Thatib, pangkat Gunsho.
22)
M. Thaher, pangkat Gunsho.
23)
Sulaiman Effendi, pangkat Gunshp.
24)
Abu Kasim, pangkat Suco.
25)
Yusuf Didong, pangkat Suco.
26)
A. Rachman Mersam, pangkat Gunsho.
27)
M. Kukoh, pangkat Gunsho.
28)
Jupri, pangkat Gunsho.
29)
Ahmad Pulau Temiang, pangkat Gunsho.
30)
H. Suud, pangkat Gunsho.
31)
Mauti, pangkat Gunsho.
32)
Yakub, pangkat Gunsho.
33)
Zainal, pangkat Gunsho.
34)
M. Amin Mangku, pangkat Gunsho.
35)
M. Noer, pangkat Soco.
36)
A. Khatab, pangkat Gunsho.
37)
Mentadi, pangkat Gunsho.
1.
Pemuda-pemuda
Jambi yang direkrut Jepang menjadi Heiho atau Pembantu Prajurit antara lain
sebagai berikut ;
I. Laisa.
II. Yakup A.
III. Muhammad Jiha.
IV. Yakup Yaman.
V. Arif.
VI. Hasan.
VII. Mahmud.
VIII. Ismail Yamin.
IX. Syukur Pidin.
i. Mat Itik.
ii. Zainal Barhan.
iii. Dan lain-lainnya yang belum disebut
urutannya.
iv. Sedang pemuda Jambi yang mendapat
latihan angkatan laut atau Kaygun antara lain adalah sebagai berikut
1)
M. Syukur.
2)
Zakir.
3)
Daud Hasan.
1.
Pemuda Jambi
yang ikut latihan kepolisian antara lain adalah sebagai berikut.
1)
Ibrahim Syamsir
2)
Abdul Muluk.
3)
Hamid.
4)
Abu Hasan.
5)
M. Yutar
6)
Kandung.
1.
Pemuda Jambi
yang mendapat latihan Kempetai di Plaju/Sungai Gerong, Palembang, antara lain
adalah Hoesein Saad.
Kalau di
Jawa ada Pembela Tanah Air (PETA) maka di Sumatera, termasuk Jambi ada pula
Gyugun dan Heiho yang fungsi dan peranannya sama dengan PETA. Perwira dari
Gyugun dan Heiho ini memiliki jenjang kepangkatan sebagai berikut.
1)
Buutaicho (Regu)
2)
Shotaicho (Seksi)
3)
Chutaico (Kompi)
4)
Butaicho (Batalyon)
5)
Rentaicho (Devisi)
6)
Daitaicho (Resimen)
Sedangkan
kepangkatan dan struktur Seinendan adalah sebagai berikut.
1)
Dancho (Komandan)
2)
Fukudancho (Wakil komandan)
3)
Komon (Penasehat)
4)
Sanyo (Anggota)
5)
Kanji (Administrasi).
Sosial Keagamaan
Dengan
maksud ingin merangkul umat Islam, maka pemerintahan militer Jepang melalui
departemen urusan agama (Shumobu) tidak menghalangi kegiatan organisasi Islam.
Madjlisoel Islamil A’laa Indonesia (MIAI), Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU)
tidak dibubarkan. Bahkan Jepang ikut juga mendorong berdirinya organisasi Islam
yakni Masyoemi ? (Madjelis Syoero Muslimin Indonesia) pada bulan November 1942.
Kemudian Jepang membubarkan organisasi MIAI.
Para ulama Jambi dari setiap gun diambil satu orang
untuk berangkat ke Singapore. Mereka dikumpulkan dalam satu seminar mengenai
Islam oleh pusat penerangan dari Dai Nippon. Selesai di indoktrinasi para ulama
Jambi diberikan sebuah lencana dan diberi kewajiban menyampaikan hasil
pertemuan kepada rakyat bahwa tentara Jepang menghormati perkembangan agama
Islam di Indonesia. Para ulama di daerah Jambi pada awal kemerdekaan Republik
Indonesia, mereka menghimpun dirinya ke dalam partai politik yakni Partai Masyoemi. Para pemuka agama atau ulama ikut
menggalang semangat juang melawan Belanda pada masa agresi militer I dan II.
Kerja Paksa
Di daerah Jambi, rakyat dikenakan wajib bakti atau
kerja paksa. Di pulau Jawa dan tempat lain mungkin namanya Romusya, tapi di
Jambi kerja paksa ini disebutKendoroshi atau
umumnya disebut Kuli Palembang.
Mula-mula
rakyat dipaksa mengerjakan atau bergotong-royong. membuat lapangan terbang di
Sarolangun, dan jalan jalan yang ada di Jambi. Tapi kemudian dipaksa bekerja ke
Palembang untuk membuat jalan dan lapangan terbang.
Di kota Palembang arah ke pasar 16, dekat dengan
jembatan Ampera (sekarang) terdapat sebuah jalan yang disebut jalan Tengkuruk.
Menurut penuturan masyarakat tengkuruk itu adalah tumpukan tengkorak pekerja
paksa. Di sana pekerja paksa kalaupun bisa pulang kembali ke Jambi tidak ubahnya buntang bernyawa. Badan tinggal hanya kulit berkeriput
membalut tulang, penuh koreng, kuman, dan borok, dalam keadaan 90%
bertelanjang, napas bagaikan nyawa ikan, sulit diajak berbicara, wajah sulit
untuk dikenali karena kurusnya. Dari Jambi yang diberangkatkan hanya 50% saja
yang dapat kembali lagi ke Jambi. Gambaran pekerja paksa ini diambil dari Buku
Jambi Dalam Sejarah Karangan Mukti Nazruddin (1989).