Selasa, 14 November 2017

Perlawanan di Daerah-daerah Terhadap Jepang


4. Perang Melawan Sang Tirani
Jepang yang mula-mula disambut dengan senang hati, kemudian berubah menjadi kebencian. Rakyat bahkan lebih benci pada pemerintah Jepang daripadapemerintah Kolonial Belanda. Jepang seringkali bertindak sewenang-wenang. Rakyat tidak bersalah ditangkap, ditahan, dan disiksa. Kekejaman itu dilakukan oleh kempetai (polisi militer Jepang). Pada masa pendudukan Jepang banyak gadis dari perempuan Indonesia yang ditipu oleh Jepang dengan dalih untuk bekerja sebagai perawat atau disekolahkan, ternyata hanya dipaksa untuk melayani para kempetai. Para gadis dan perempuan itu disekap dalam kamp-kamp yang tertutup sebagai wanita penghibur. Kamp-kamp itu dapat kitatemukan di Semarang, Jakarta, dan Sumatera Barat. Kondisi itu menambah deretan penderitaan rakyat di bawah kendali penjajah Jepang. Oleh karena itu, wajar kalau kemudian timbul berbagai perlawanan terhadap pemerintah pendudukan Jepang di indonesia.
a. Aceh Angkat Senjata
Salah satu perlawanan terhadap Jepang di Aceh adalah perlawananan rakyat yang terjadi di Cot Plieng yang dipimpin oleh Abdul Jalil. Abdul Jalil adalah seorang ulama muda, guru mengaji di daerah Cot Plieng, Provinsi Aceh. Karena melihat kekejaman dan kesewenangan pemerintah pendudukan Jepang, terutama terhadap romusa, maka rakyat Cot Plieng melancarkan perlawanan. Abdul .hlil memimpin rakyat Cot Plieng untuk melawan tindak penindasan dan kekejaman yang dilakukan pendudukan Jepang.
Di Lhokseumawe, Abdul Jalil berhasil menggerakkan rakyat dan para santri di sekitar Cot Hieng. Gerakan Abdul Jalil ini di mata Jepang dianggap sebagai tindakan yang sangat membahayakan. Oleh karena itu, Jepang berusaha memijuk Abdul Jalil untuk berdamai. Namun, Abdul Jalil bergeming dengan ajakan damai itu. Karena Abdul Jalil menolak jalan damai. pada tanggal 10 November 1942, Jepang mengerahkan pasukannya untuk menyerang Cot Plieng.  Kemudian, pertempuran berlanjut hingga padatanggal 24 November 1942. saat rakyat sedang menjalankan Ibadah salat sibuh. Karena diserang, maka rakyat pun dengan sekuat tenaga melawan. Rakyat dengan bersenjatakan pedang dan kelewang, bertahan bahkan dapat memukul mundur tentara Jepang rangan tentara Jepang diulang untuk yang kedua kalinya, tetapi dapat digagalkan oleh rakyat. Kekuatan Jepang semakin ditingkatkan. Kemudian. Jepang melancarkan serangan untuk yang ketiga kalinya dan berhasil menghancurkan pertahanan rakyat Cot Plieng, setelah Jepang membakar masnd. Banyak rakyat pengikut Abdul Jalil yang terbunuh. Dalam keadaan terdesak Abdul  dan beberapa pengikutnya berhasil meloloskan diri ke B.iloh Blang Ara. Beberapa hari kemudian, saat Abdul Jalil dan pengikutnya sedang menjalankan salat, mereka ditembaki oleh tentara Jepang sehingga Abdul Jalil gugur sebagai pahlawan bangsa. Dalam pertempuran ini, rakyat yang gugur sebanyak 120 orang dan 150 orang luka luka, sedangkan Jepang kehilangan 90 orang prajuritnya.
Kebencian rakyat Aceh terhadap Jepang semakin meluas sehingga muncul perlawanan di Jangka Buyadi bawah pimpinan perwira Gyugun Abdul Hamid. Dalam Situasi perang yang meluas ke berbagai tempat. Jepang mencari cara yang efektif untuk menghentikan perlawanan Abdul Hamid. Jepang menangkap dan menyandera semua anggota keluarga Abdul Hamid. Dengan berat hati akhirnya Abdul Hamid mengakhiri perlawanannya. Berikutnya perlawanan rakyat berkobar di daerah Kabupaten Bireuen. Perlawanan disebabkan oleh masalah penyetoran padi dan pengerahan tenaga romusa. Kerja paksa yang diadakan Jepang terlalu memakan waktu panjang sehingga para petani hampir tidak memiliki kesempatan untuk menggarap sawah. Di samping itu. Jepang menancapi bambu runang di sawah sawah dengan maksud agar tidak dapat digunakan Sekutu untuk mendaratkan pasukan payungnya. Tindakan Jepang itu sangat merugikan rakyat. Fakta yang memberatkan lagi, Jepang juga memaksa rakyat untuk menyerahkan hasil panennya sebanyak 50 80%.
b. Perlawanan di Singaparna
Singaparna merupakan salah satu daerah diwilayah Jawa Barat yang rakyatnya dikenal sangat religius dan memiliki jiwa patriotik. Rakyat Singaparna sangat anti terhadap dominas asing. Oleh karena itu, rakyat Singaparna sangat benci terhadap pendudukan Jepang, apalagi ketika mengetahui perilaku pemerintahan Jepang yang sangat kejam. Kebijakan kebijakan Jepang yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam ajaran yang banyak dianut oleh masyarakat Singaparna. Atas dasar pandangan dan ajaran lslam, rakyat Singaparna melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Jepang. Perlawanan itu juga dilatarbelakangi oleh kehidupan rakyat yang semakin menderita.
Pengerahan tenaga romusa dengan paksa dan di bawah ancaman ternyata sangat mengganggu ketenteraman rakyat. Para romusa dari Singaparna dikirim ke berbagai daerah di luar Jawa. Mereka umumnya tidak kembali karena menjadi korban keganasan alam maupun akibat tindakan Jepang yang tidak mengenal perikemanusiaan. Mereka banyak yang meninggal tanpa diketahui di mana kuburnya. Selain itu, rakyat juga diwajibkaan menyerahkan padi dan beras dengan aturan yang sangat menjerat dan menindas rakyat, sehingga penderitaan terjadi di mana-mana. Kemudian secara khusus rakyat Singaparna di bawah Kiai Zainal Mustafa menentang keras untuk melakukan SSY itulah sebabnya rakyat Singaparna mengangkat senjata melawan Jepang.
Perlawanan meletus pada bulan Februari, 1944. Perlawanan dipimpin oleh Haji Zainal Mustafa, seorang ajengan di Sikamanah, Singaparna. Ia adalah pendiri Pesantren Sikamanah. Pandiri pesantren ini tidak mau kerja sama dengan Jepang, Ia sangat menentang kebijakan kebijakan Jepang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan Zainal Mustafa secara diam diam telah membentuk “Pasukan Tempur Sikamanah" yang dipimpin oleh ajengan Najmudin.
Kiai Zainal Mustafa memulai pertempuran pada salah satu hari Jumat di bulan Februari 1944. Sebelum perang itu dimulai ada beberapa utusan dari kepolisian Tasikmalaya dan beberapa orang lndonesia yang ingin mengadakan perundingan dengan Zainal Mustafa. Namun, polisi Jepang itu dilucuti senjatanya dan ditahan oleh pengikut Zainal Mustafa. Kemudian ada seorang polisi yang disuruh kembali ke Tasikmalaya untuk melaporkan yang baru saja terjadi dan menyampaikan ultimatum dari Kiai Zainal Mustafa kepada pihak Jepang agar besok segera memerdekakan Jawa dan jika tidak maka akan terjadi pertempuran yang akan mengancam keselamatan orang-orang Jepang.
Hari berikutnya datang kembali rombongan utusan Jepang ke Sikamanah untuk mengadakan kembali perundingan dengan Zainal Mustafa. Akan tetapi utusan Jepang itu bersikap congkak dan sombong untuk menunjukkan bahwa Jepang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan lebih kuat. Hal ini menyulut kemarahan pengikut Zainal Mustafa, sehingga utusan Jepang itu pun dilucuti senjatanya dan ditangkap bahkan ada yang dibunuh, sementara ada juga yang berhasil melarikan diri. Setelah kejadian ini, Jepang mengirimkan pasukan ke Sikamanah, yang terdiri dari 30 orang kempetai dan 60 orang polisi negara istimewa (tokubetsu keimtsu) dari Tasikmalaya dan Garut. Pertempuran terjadi lebih kurang satu jam di kampung Sikamanah. Pihak rakyat menyerang dengan mempergunakan pedang dan bambu runcing yang diikuti dengan teriakan takbir. Zainal Mustafa dengan pengikutnya bertempur mati matian untuk menghadapi gempuran dari pihak Jepang. Karena jumlah pasukan yang lebih besar dan peralatan senjata yang lebih lengkap tentara Jepang berhasil mengalahkan pasukan Zainal Mustafa. Dalam pertempuran ini banyak berguguran para pejuang Indonesia Kiai Zainal Mustafa ditangkap Jepang bersama gurunya Kiai Emar. Selanjutnya Kiai Zainal Mustafa bersama 27 orang pengikutnya diangkut ke Jakarta. Pada tanggal 25 Oktober 1944, mereka dihukum mati. Sementara Kiai Emar disiksa oleh polisi Jepang dan akhirnya meninggal.
c. Perlawanan di Indramayu
Perlawanan terhadap kekejaman Jepang juga terjadi di daerah lndramayu. Latar belakang dan sebab-sebab perlawanan itu tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Singaparna. Para petani dan rakyat Indramayu pada umumnya hidup sangat sengsara Jepang telah bertindak semena-mena terhadap para petani Indramayu. Mereka harus menyerahkan sebagian besar hasil padinya kepada Jepang. Tentu kebijakan ini sangat menyengsarakan rakyat. Begitu juga kebijakan untuk mengerahkan tenaga romusa juga terjadi di Indramayu, sehingga semakin membuat rakyat menderita.
Perlawanan rakyat Indramayu antara lain terjadi di Deca Kaplongan, Distrik Karang ampel pada bulan April 1944. Kemudian pada bulan Juli, muncul pula perlawanan rakyat di Desa Cidempet, Kecamatan Lohbener. Perlawanan tersebut terjadi karena rakyat merasa tertindas dengan adanya kebijakan penarikan hasil padi yang sangat memberatkan. Rakyat yang baru saja memanen padinya harus langaing dibawa ke balai desa. Setelah itu, pemilik mengajukan permohonan kembali untuk mendapat sebagian padi hasil panennya Rakyat tidak dapat menerima cara cara Jepang yang demikian. Rakyat protes dan melawan. Mereka bersernboyan “ lebih baik mati melawan Jepang dari pada mati kelaparan" . Setelah kejadian tersebut, maka terjadilah perlawanan yang dilakukan oleh rakyat. Namun, sekali lagi rakyat tidak mampu melawan kekuatan Jepang yang didukung dengan tentara dan peralatan yang lengkap. Rakyat telah menjadi korban dalam membela bumi tanah airnya.


d. Rakyat Kalimantan
Kekejaman Jepang terjadi di banyak tempat. Begitu juga di Kalimantan terjadi peristiwa yang hampir sama dengan yang terjadi di Jawa dan Sumatera. Rakyat melawan Jepang karena himpitan penindasan yang dirasakan sangat berat. Salah satu perlawanan di Kalimantan adalah perlawanan yang dipimpin oleh Panglima, seorang pemimpin Suku Dayak. Pemimpin Siku Dayak ini merniliki pengaruh yang luas di kalangan orang-orang atau Suku-suku dari daerah Tayan. Meliau, dan sekitarnya yang pengikutnya melainkan perlawanan terhadap Jepang dengan taktik perang gerilya. Walaupun mereka hanya berjumlah sedikit, tetapi dengan bantuan rakyat yang militan dan dengan memanfaatkan keuntungan alam berupa rimba belantara, sungai, rawa, dan daerah yang sulit ditempuh perlawanan berkobar dengan sengitnya. Namun, harus dipahami bahwa di kalangan penduduk juga berkeliaran para mata-mata Jepang yang berasal dari orang-orang lndonesia sendiri. Lebih menyedihkan lagi, para mata-mata itu juga tidak segan-segan menangkap rakyat, melakukan penganiayaan, dan pembunuhan baik terhadap orang-orang yang dicurigai atau bahkan terhadap saudaranya sendiri. Adanya mata-mata inilah yang sering membuat perlawanan para pejuang Indonesia dapat dikalahkan oleh penjajah. Demikian juga perlawanan rakyat yang dipimpin Panglima di Kalimantan ini akhirnya mengalami kegagalan.
e. Perlawanan Rakyat Irian Barat
Pada masa pendudukan Jepang, penderitaan juga dialami oleh rakyat di Irian Barat. Mereka mendapat pukulan dan penganiayaan yang sering di luar batas kemanusaan. Oleh karena itu. wajar jika kemudian mereka melancarkan perlawanan terhadap Jepang.
Gerakan perlawanan yang terkenal di Papua adalah "Gerakan Koreri" yang berpusat di Biak dengan pemimpinnya bernama L Fbmkorem. Biak merupakan pusat pergolakan untuk melawan pendudukan Jepang. Rakyat Irian memiliki semangat juang pantang menyerah, sekalipun Jepang sangat kuat, sedangkan rakyat hanya menggunakan senjata seadanya untuk melawan. Rakyat Irian terus memberikan perlawanan di berbagai tempat. Mereka juga tidak merniliki rAsia takut. Padahal kalau ada rakyat yang tertangkap, Jepang tidak segan segan memberi hukuman pancung di depan umum. Namun, rakyat Irian tidak gentar menghadapi semua itu. Mereka melakukan taktik perang gerilya. Tampaknya, Jepang cukup kewalahan menghadapi keberanian dan taktik gerilya orang orang Irian. Akhirnya, Jepang tidak mampu bertahan menghadapi para pejuang Irian tersebut. Jepang akhirnya meninggalkan Biak. Oleh karena itu. dapat dikatakan Pulau Bak ini merupakan daerah bebas dan merdeka yang pertama di lndonesia
    Ternyata perlawanan di tanah irian ini juga meluas ke berbagai daerah, dari Bak kemudian ke Yapen Selatan. &lah seorang pemimpin perlawanan di daerah ini adalah Slas apara. Perlawanan di daerah ini berlangsung sangat lama bahkan sampai kemudian tentara Jepang dikalahkan Sekutu. Setelah berjuang bergerilya dalam waktu yang sangat lama, rakyat Yape Selatan mendapatkan bantuan senjata dari Sekutu, bantuan senjata itu membantu rakyat Yape Selatan untuk mengalahkan Jepang. Hal tersebut menunjukkan bagaimana keuletan rakyat Irian dalam menghadapi kekejaman penduduk.
 f. PETA di Blitar Angkat Senjata
 Pada masa pendudukan Jepang penderitaan rakyat sangat berat. Tidak ada sedikit pun dari pemerintah pendudukan Jepang yang memikirkan kehidupan rakyat yang diperintahnya.Yang ada pada benak Jepang adalah memenangkan perang dan upaya mempertahankan Indonesia dari serangan Sekutu. Namun. justru rakyat yang dikorbankan. Rakyat menjadi semakin menderita. Penderitaan demi penderitaan ini mulai terlintas di benak Sipriyadi seorang Suodanco PETA Tumbuhlah semangat dan kesadaran nasional, sehingga timbul rencana untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Sebagai bangsa indoneisa cukup memahami bagaimana penderitaan rakyat akibat penindasan yang dilakukan Jepang. Masalah pengumpulan hasi padi. pengerahan romusa, semua dilakukan sewa paksa dengan tanpa memperhatikan nilai nilai kemanusiaan. sungguh kekejaman yang luar biasa. Hal semacam ini juga dirasakan Supriyadi dan kawan-kawannya di lingkungan PETA. Mereka kerap menyaksikan sikap congkak dan sombong dari para syudokan yang melatih mereka.
Para pelatih Jepang sering merendahkan para prajurit bumi putra. Hal ini menambah rasa sakit hati sekaligus rasa benci pasukan Supriyadi terhadap pemerintahan Jepang di lndonesia. Penderitaan rakyat itulah yang menimbulkan rencana para anggota PETA di Blitar untuk melancarkan perlawanan terhadap pendudukan Jepang. Rencana perlawanan itu tampaknya sudah bulat tinggal menunggu waktu yang tepat. Dalam perlawanan PETA tersebut. direncanakan akan melibatkan rakyat dan beberapa kecaman lain. Apa pun yang terjadi, Supriyadi dengan teman-temannya sudah bertekad bulat untuk melancarkan serangan terhadap pihak Jepang. Pada tanggal 29 Februari 1945 dini hari. Supriyadi dengan teman-temannya mulai bergerak. Mereka melepaskan tembakan mortir, senapan mesin, dan granat dari daidan, lalu keluar dengan bersenjata lengkap. Setelah pihak Jepang mengetahui adanya gerakan penyerbuan itu, mereka segera mendatangkan pasukan yang semuanya orang Jepang. Pasukan Jepang juga dipersenjatai dengan beberapa tank dan pesawat udara. Mereka segera menghalau para anggota PETA yang mencoba melakukan perlawanan. Tentara Jepang mulai menguasai keadaan dan seluruh kota Blitar mulai dapat dikuasai. Himpunan tentara Jepang kemudian menyerukan kepada segenap anggota PETA yang melakukan serangan, agar segera kembali keinduk kecaman masing masing.
    Beberapa kesatuan mulai memenuhi perintah pimpinan tentara Jepang itu. Akan tetapi mereka yang kembali ke induk pasukannya memenuhi panggilan justru ditangkapi, ditahan, dan disiksa oleh polisi Jepang. Selanjutnya diserukan kepada anak buah Supriyadi agar menyerah dan kembali ke induk paaikannya. Kurang lebih setengah dari batalion Supriyadi memenuhi panggilan tersebut. Namun, pasukan yang lain tidak ingin kembali dan tetapi setia melakukan perlawanan PETA yang dipimpin oleh Supriyadi. Mereka yang tetapi melakukan perlawanan itu antara lain peleton pimpinan Siodanco, Supriyadi, dan Muradi. Mereka membuat pertahanan di lereng Gunung Kawi dan Diarik Pare.
  Untuk menghadapi perlawanan PETA di bawah pimpinan Supriyadi, Jepang mengerahkan semua pasukannya dan mulai memblokir serta mengepung pertahanan pasukan PETA tersebut. Namun, pasukan Supriyadi tetapi bertahan. Mengingat semangat, tekad, dan keuletan pasukan Supriyadi dan Muradi tersebut, maka Jepang mulai menggunakan tipu muslihat. Komandan pasukan Jepang Kolonel Katagiri berpura-pura menyerah kepada pasukan Muradi. Kolonel Katagiri kemudian bertukar pikiran dengan anggota pasukan PETA dengan lemah lembut, penuh kecantunan, sehingga hati para pemuda yang telah memuncak panas itu bisa membalik menjadi dingin kembali.
      Kolonel Katagiri berhasil mengadakan persetujuan dengan mereka Para pemuda PETA yang melancarkan serangan bersedia kembali ke daidan beserta senjata-senjatanya. Katagiri menjanjikan, bahwa segala sesuatu akan dianggap soal interen daidan, dan akan diurus oleh Daidanco Surakhmad. Mereka akan diterima kembali dan tidak akan dibawa ke depan pengadilan militer. Dengan hasil kesepakatan itu, maka pada satu hari kira kira pukul delapan malam Suodanco Muradi tiba bersama pasukannya kembali ke daidan. Di sini sudah berderet barisan para perwira di bawah pimpinan Daidanco Surahmad. Sejenak kemudian Shodanco Muradi maju, lapor kepada Daidanco Surakhmad, bahwa pasukannya telah kembali. Mereka juga menyatakan menyesal atas perbuatan melawan Jepang dan berjanji untuk setia kepada kesatuannya. Mereka tidak menyadari bahwa telah masuk perangkap, karena dari tempat tempat yang gelap pasukan Jepang telah mengepung mereka. Mereka kemudian dilucuti senjatanya dan ditawan, diangkut ke Markas Kempetai Blitar. Ternyata Muradi yang sudah menyerah tetap diadili dan dijatuhi hukuman mati.
      Kekuatan PETA ini di bawah Supriyadi ini semakin lemah. Tidak terlalu lama akhirnya perlawanan PETA di Blitar dI bawah pimpinan Supriyadi ini dapat dipadamkan. Tokoh-tokoh dan anggota PETA yang ditangkap kemudian diadili di depan Mahkamah Militer Jepang di Jakarta. Setelah Melalui beberapa kali persidangan, mereka kemudian dijatuhi hukuman semai dengan peranan masing-masing dalam perlawanan itu. Ada yang mendapat pidana mati, ada yang seumur hidup, dan sebagainya. Mereka yang dipidana mati antara lain, dr. Ismail. Muradi yang sudah disebutkan di atas. Sparyono, Halir Mangkudijoyo, Sunamo, dan Sudarno. Sementara itu, SupriyadI tidak jelas beritanya dan tidak disebut-sebut dalam pengadilan tersebut.


2 komentar: