4.
Perang Melawan Sang Tirani
Jepang yang mula-mula disambut dengan senang hati,
kemudian berubah menjadi kebencian. Rakyat bahkan lebih benci pada pemerintah
Jepang daripadapemerintah Kolonial Belanda.
Jepang
seringkali bertindak sewenang-wenang.
Rakyat
tidak bersalah ditangkap, ditahan, dan disiksa. Kekejaman itu dilakukan oleh
kempetai (polisi militer Jepang). Pada masa pendudukan Jepang banyak gadis dari
perempuan Indonesia yang ditipu oleh Jepang dengan dalih untuk bekerja sebagai
perawat atau disekolahkan, ternyata hanya dipaksa untuk melayani para kempetai.
Para gadis dan perempuan itu disekap dalam kamp-kamp yang tertutup sebagai
wanita penghibur. Kamp-kamp itu dapat kitatemukan di Semarang, Jakarta, dan
Sumatera Barat. Kondisi itu menambah deretan penderitaan rakyat di bawah
kendali penjajah Jepang. Oleh karena itu, wajar kalau kemudian timbul berbagai
perlawanan terhadap pemerintah pendudukan Jepang di indonesia.
a.
Aceh Angkat Senjata
Salah satu perlawanan terhadap Jepang di Aceh adalah
perlawananan rakyat yang terjadi di Cot Plieng yang dipimpin oleh Abdul Jalil.
Abdul Jalil adalah seorang ulama muda, guru mengaji di daerah Cot Plieng,
Provinsi Aceh. Karena melihat kekejaman dan kesewenangan pemerintah pendudukan
Jepang, terutama terhadap romusa, maka rakyat Cot Plieng melancarkan perlawanan. Abdul
.hlil memimpin rakyat Cot Plieng untuk melawan tindak penindasan dan kekejaman
yang dilakukan pendudukan Jepang.
Di Lhokseumawe, Abdul Jalil berhasil menggerakkan
rakyat dan para santri di sekitar Cot Hieng. Gerakan Abdul Jalil ini di mata
Jepang dianggap sebagai tindakan yang sangat membahayakan. Oleh karena itu,
Jepang berusaha memijuk Abdul Jalil untuk berdamai. Namun, Abdul Jalil
bergeming dengan ajakan damai itu. Karena Abdul Jalil menolak jalan damai. pada
tanggal 10 November 1942, Jepang mengerahkan pasukannya untuk menyerang Cot
Plieng. Kemudian,
pertempuran berlanjut hingga padatanggal 24 November 1942. saat rakyat sedang
menjalankan Ibadah salat sibuh. Karena diserang, maka rakyat pun dengan sekuat
tenaga melawan. Rakyat dengan bersenjatakan pedang dan kelewang, bertahan
bahkan dapat memukul mundur tentara Jepang rangan tentara Jepang diulang untuk
yang kedua kalinya, tetapi dapat digagalkan oleh rakyat. Kekuatan Jepang
semakin ditingkatkan. Kemudian. Jepang melancarkan serangan untuk yang ketiga
kalinya dan berhasil menghancurkan pertahanan rakyat Cot Plieng, setelah Jepang
membakar masnd. Banyak rakyat pengikut Abdul Jalil yang terbunuh. Dalam keadaan
terdesak Abdul dan beberapa pengikutnya
berhasil meloloskan diri ke B.iloh Blang Ara. Beberapa hari kemudian, saat
Abdul Jalil dan pengikutnya sedang menjalankan salat, mereka ditembaki oleh
tentara Jepang sehingga Abdul Jalil gugur sebagai pahlawan bangsa. Dalam
pertempuran ini, rakyat yang gugur sebanyak 120 orang dan 150 orang luka luka,
sedangkan Jepang kehilangan 90 orang prajuritnya.
Kebencian rakyat Aceh terhadap Jepang semakin meluas
sehingga muncul perlawanan di Jangka Buyadi bawah pimpinan perwira Gyugun Abdul
Hamid. Dalam Situasi perang yang meluas ke berbagai tempat. Jepang mencari cara
yang efektif untuk menghentikan perlawanan Abdul Hamid. Jepang menangkap dan
menyandera semua anggota keluarga Abdul Hamid. Dengan berat hati akhirnya Abdul
Hamid mengakhiri perlawanannya. Berikutnya perlawanan rakyat berkobar di daerah
Kabupaten Bireuen. Perlawanan disebabkan oleh masalah penyetoran padi dan
pengerahan tenaga romusa. Kerja paksa yang diadakan Jepang terlalu memakan
waktu panjang sehingga para petani hampir tidak memiliki kesempatan untuk
menggarap sawah. Di samping itu. Jepang menancapi bambu runang di sawah sawah
dengan maksud agar tidak dapat digunakan Sekutu untuk mendaratkan pasukan
payungnya. Tindakan Jepang itu sangat merugikan rakyat. Fakta yang memberatkan
lagi, Jepang juga memaksa rakyat untuk menyerahkan hasil panennya sebanyak 50
80%.
b.
Perlawanan di Singaparna
Singaparna merupakan salah satu daerah
diwilayah Jawa Barat yang rakyatnya dikenal sangat religius dan memiliki jiwa
patriotik. Rakyat Singaparna sangat anti terhadap dominas asing. Oleh karena
itu, rakyat Singaparna sangat benci terhadap pendudukan Jepang, apalagi ketika
mengetahui perilaku pemerintahan Jepang yang sangat kejam. Kebijakan kebijakan
Jepang yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat banyak yang tidak sesuai
dengan ajaran Islam ajaran yang banyak dianut oleh masyarakat Singaparna. Atas dasar
pandangan dan ajaran lslam, rakyat Singaparna
melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Jepang. Perlawanan itu juga
dilatarbelakangi oleh kehidupan rakyat yang semakin menderita.
Pengerahan tenaga romusa dengan paksa
dan di bawah ancaman ternyata sangat mengganggu ketenteraman rakyat. Para
romusa dari Singaparna dikirim ke berbagai daerah di luar Jawa. Mereka umumnya
tidak kembali karena menjadi korban keganasan alam maupun akibat tindakan
Jepang yang tidak mengenal perikemanusiaan. Mereka banyak yang meninggal tanpa
diketahui di mana kuburnya. Selain itu, rakyat juga diwajibkaan menyerahkan
padi dan beras dengan aturan yang sangat menjerat dan menindas rakyat, sehingga
penderitaan terjadi di mana-mana.
Kemudian secara khusus rakyat Singaparna di bawah Kiai Zainal Mustafa menentang
keras untuk melakukan SSY itulah sebabnya rakyat Singaparna mengangkat senjata
melawan Jepang.
Perlawanan meletus pada bulan Februari,
1944. Perlawanan dipimpin oleh Haji Zainal Mustafa, seorang ajengan di Sikamanah, Singaparna. Ia adalah pendiri Pesantren Sikamanah.
Pandiri pesantren ini
tidak mau kerja sama dengan Jepang, Ia sangat menentang kebijakan kebijakan
Jepang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan Zainal Mustafa secara diam
diam telah membentuk “Pasukan Tempur Sikamanah"
yang dipimpin oleh ajengan Najmudin.
Kiai Zainal Mustafa memulai pertempuran
pada salah satu hari Jumat di bulan Februari 1944. Sebelum perang itu dimulai ada beberapa utusan dari kepolisian
Tasikmalaya
dan beberapa orang lndonesia
yang ingin mengadakan perundingan dengan Zainal Mustafa. Namun, polisi Jepang
itu dilucuti senjatanya dan ditahan oleh pengikut Zainal Mustafa. Kemudian ada seorang polisi
yang disuruh kembali ke Tasikmalaya untuk melaporkan yang baru saja terjadi dan
menyampaikan ultimatum dari Kiai Zainal Mustafa kepada pihak Jepang agar besok
segera memerdekakan Jawa dan jika tidak maka akan terjadi pertempuran yang akan
mengancam keselamatan orang-orang Jepang.
Hari berikutnya datang kembali rombongan
utusan Jepang ke Sikamanah untuk mengadakan kembali perundingan dengan Zainal
Mustafa. Akan tetapi utusan Jepang itu bersikap congkak dan sombong untuk
menunjukkan bahwa Jepang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan lebih kuat.
Hal ini menyulut kemarahan pengikut Zainal Mustafa, sehingga utusan Jepang itu
pun dilucuti senjatanya dan ditangkap bahkan ada yang dibunuh, sementara ada
juga yang berhasil melarikan diri. Setelah kejadian ini, Jepang mengirimkan
pasukan ke Sikamanah, yang terdiri dari 30 orang kempetai dan 60 orang polisi
negara istimewa (tokubetsu keimtsu) dari Tasikmalaya dan Garut. Pertempuran
terjadi lebih kurang satu jam di kampung Sikamanah. Pihak rakyat menyerang
dengan mempergunakan pedang dan bambu runcing yang diikuti dengan teriakan
takbir. Zainal Mustafa dengan pengikutnya bertempur mati matian untuk
menghadapi gempuran dari pihak Jepang. Karena jumlah pasukan yang lebih besar
dan peralatan senjata yang lebih lengkap tentara Jepang berhasil mengalahkan pasukan Zainal
Mustafa. Dalam pertempuran ini banyak berguguran para pejuang Indonesia Kiai
Zainal Mustafa ditangkap Jepang bersama gurunya Kiai Emar. Selanjutnya Kiai Zainal Mustafa bersama 27 orang
pengikutnya diangkut ke Jakarta. Pada tanggal 25 Oktober 1944, mereka dihukum
mati. Sementara Kiai Emar disiksa oleh polisi Jepang dan akhirnya meninggal.
c.
Perlawanan di Indramayu
Perlawanan terhadap kekejaman Jepang
juga terjadi di daerah lndramayu. Latar belakang dan sebab-sebab perlawanan itu tidak jauh
berbeda dengan apa yang terjadi di Singaparna. Para petani dan rakyat Indramayu
pada umumnya hidup sangat sengsara Jepang telah bertindak semena-mena terhadap para petani
Indramayu. Mereka harus menyerahkan sebagian besar hasil padinya kepada Jepang.
Tentu kebijakan ini sangat menyengsarakan rakyat. Begitu juga kebijakan untuk
mengerahkan tenaga romusa juga terjadi di Indramayu, sehingga semakin membuat
rakyat menderita.
Perlawanan rakyat Indramayu antara lain
terjadi di Deca Kaplongan, Distrik Karang
ampel
pada bulan April 1944. Kemudian pada bulan Juli, muncul pula perlawanan rakyat
di Desa Cidempet, Kecamatan Lohbener. Perlawanan tersebut terjadi karena rakyat
merasa
tertindas dengan adanya kebijakan penarikan hasil padi yang sangat memberatkan.
Rakyat yang baru saja memanen padinya harus langaing dibawa ke balai desa. Setelah itu, pemilik mengajukan
permohonan kembali untuk mendapat sebagian padi hasil panennya Rakyat tidak dapat
menerima cara cara Jepang yang demikian. Rakyat protes dan melawan. Mereka
bersernboyan “ lebih baik mati melawan Jepang dari pada mati kelaparan" . Setelah
kejadian tersebut, maka terjadilah perlawanan yang dilakukan oleh rakyat.
Namun, sekali lagi rakyat tidak mampu melawan kekuatan Jepang yang didukung
dengan tentara dan peralatan yang lengkap. Rakyat telah menjadi korban dalam
membela bumi tanah airnya.
d. Rakyat Kalimantan
Kekejaman Jepang terjadi di banyak tempat.
Begitu juga di Kalimantan terjadi
peristiwa yang hampir sama dengan yang terjadi di Jawa dan Sumatera. Rakyat
melawan Jepang karena himpitan penindasan yang dirasakan
sangat berat. Salah satu perlawanan di Kalimantan adalah perlawanan yang
dipimpin oleh Panglima,
seorang pemimpin Suku
Dayak. Pemimpin Siku Dayak ini merniliki pengaruh yang luas di kalangan orang-orang atau Suku-suku dari daerah Tayan. Meliau, dan
sekitarnya yang pengikutnya melainkan perlawanan terhadap Jepang dengan taktik
perang gerilya. Walaupun
mereka hanya berjumlah sedikit, tetapi
dengan bantuan rakyat yang militan dan dengan memanfaatkan keuntungan alam berupa
rimba belantara, sungai, rawa, dan daerah yang sulit
ditempuh perlawanan berkobar dengan
sengitnya. Namun, harus
dipahami bahwa di kalangan penduduk juga berkeliaran para mata-mata Jepang yang
berasal dari orang-orang
lndonesia
sendiri. Lebih menyedihkan lagi, para mata-mata itu juga tidak segan-segan
menangkap rakyat, melakukan penganiayaan, dan pembunuhan baik terhadap orang-orang
yang dicurigai atau bahkan terhadap saudaranya sendiri. Adanya mata-mata inilah
yang sering membuat perlawanan para pejuang Indonesia dapat dikalahkan oleh
penjajah. Demikian juga perlawanan rakyat yang dipimpin Panglima di Kalimantan ini akhirnya
mengalami kegagalan.
e. Perlawanan Rakyat
Irian Barat
Pada masa pendudukan Jepang, penderitaan juga dialami oleh
rakyat di Irian Barat. Mereka mendapat pukulan dan penganiayaan yang sering di
luar batas kemanusaan. Oleh karena itu. wajar jika kemudian mereka melancarkan
perlawanan terhadap Jepang.
Gerakan perlawanan yang terkenal di Papua
adalah "Gerakan Koreri" yang berpusat di Biak dengan pemimpinnya
bernama L Fbmkorem. Biak merupakan pusat pergolakan untuk melawan pendudukan
Jepang. Rakyat Irian memiliki semangat juang pantang menyerah, sekalipun Jepang
sangat kuat, sedangkan rakyat hanya menggunakan senjata seadanya untuk melawan.
Rakyat Irian terus memberikan perlawanan di berbagai tempat. Mereka juga tidak
merniliki rAsia takut. Padahal kalau ada rakyat yang tertangkap, Jepang tidak
segan segan memberi hukuman pancung di depan umum. Namun, rakyat Irian tidak
gentar menghadapi semua itu. Mereka melakukan taktik perang gerilya. Tampaknya,
Jepang cukup kewalahan menghadapi keberanian dan taktik gerilya orang orang
Irian. Akhirnya, Jepang tidak mampu bertahan menghadapi para pejuang Irian
tersebut. Jepang akhirnya meninggalkan Biak. Oleh karena itu. dapat dikatakan
Pulau Bak ini merupakan daerah bebas dan merdeka yang pertama di lndonesia
Ternyata perlawanan di tanah irian ini juga meluas ke berbagai daerah,
dari Bak kemudian ke Yapen Selatan. &lah seorang pemimpin perlawanan di
daerah ini adalah Slas apara. Perlawanan di daerah ini berlangsung sangat lama
bahkan sampai kemudian tentara Jepang dikalahkan Sekutu. Setelah berjuang
bergerilya dalam waktu yang sangat lama, rakyat Yape Selatan mendapatkan
bantuan senjata dari Sekutu, bantuan senjata itu membantu rakyat Yape Selatan
untuk mengalahkan Jepang. Hal tersebut menunjukkan bagaimana keuletan rakyat Irian dalam menghadapi
kekejaman penduduk.
f. PETA di Blitar Angkat Senjata
Pada masa pendudukan
Jepang penderitaan rakyat sangat berat. Tidak ada sedikit pun dari pemerintah
pendudukan Jepang yang memikirkan kehidupan rakyat yang diperintahnya.Yang ada
pada benak Jepang adalah memenangkan perang dan upaya mempertahankan Indonesia
dari serangan Sekutu. Namun. justru rakyat yang dikorbankan. Rakyat menjadi semakin menderita.
Penderitaan demi penderitaan ini mulai terlintas di benak Sipriyadi seorang Suodanco PETA Tumbuhlah semangat dan
kesadaran nasional, sehingga timbul rencana untuk melakukan perlawanan terhadap
Jepang. Sebagai bangsa
indoneisa cukup memahami bagaimana penderitaan rakyat akibat
penindasan
yang dilakukan Jepang. Masalah pengumpulan hasi padi. pengerahan romusa, semua
dilakukan sewa paksa dengan tanpa memperhatikan nilai nilai kemanusiaan.
sungguh kekejaman yang luar biasa.
Hal semacam ini juga dirasakan Supriyadi dan kawan-kawannya di lingkungan PETA. Mereka kerap menyaksikan sikap congkak dan sombong dari
para syudokan
yang melatih mereka.
Para pelatih Jepang sering merendahkan
para prajurit bumi putra. Hal ini menambah rasa sakit hati sekaligus rasa benci pasukan Supriyadi terhadap
pemerintahan Jepang di lndonesia. Penderitaan rakyat itulah yang menimbulkan
rencana para anggota PETA di Blitar untuk melancarkan perlawanan terhadap
pendudukan Jepang. Rencana perlawanan itu tampaknya sudah bulat tinggal
menunggu waktu yang tepat. Dalam perlawanan PETA tersebut. direncanakan akan
melibatkan rakyat dan beberapa kecaman lain. Apa pun yang terjadi, Supriyadi dengan teman-temannya sudah bertekad bulat untuk
melancarkan serangan terhadap pihak Jepang. Pada tanggal 29 Februari 1945 dini
hari. Supriyadi
dengan teman-temannya
mulai bergerak. Mereka melepaskan tembakan mortir, senapan mesin, dan granat dari daidan, lalu
keluar dengan bersenjata lengkap. Setelah pihak Jepang mengetahui adanya gerakan penyerbuan itu,
mereka segera mendatangkan pasukan yang semuanya orang Jepang. Pasukan Jepang
juga dipersenjatai dengan beberapa tank dan pesawat udara. Mereka segera
menghalau para anggota PETA yang mencoba melakukan perlawanan. Tentara Jepang
mulai menguasai keadaan dan seluruh kota Blitar mulai dapat dikuasai. Himpunan tentara Jepang kemudian
menyerukan kepada segenap anggota PETA yang melakukan serangan, agar segera
kembali keinduk kecaman masing masing.
Beberapa kesatuan mulai memenuhi perintah pimpinan tentara Jepang itu.
Akan tetapi
mereka yang kembali ke induk pasukannya memenuhi panggilan justru ditangkapi,
ditahan, dan disiksa oleh polisi Jepang. Selanjutnya diserukan kepada anak buah
Supriyadi
agar menyerah dan kembali ke induk paaikannya. Kurang lebih setengah dari
batalion Supriyadi memenuhi panggilan tersebut. Namun, pasukan yang lain tidak
ingin kembali dan tetapi setia melakukan perlawanan PETA
yang dipimpin oleh Supriyadi. Mereka yang tetapi melakukan perlawanan itu antara
lain peleton pimpinan Siodanco, Supriyadi, dan Muradi. Mereka membuat
pertahanan di lereng Gunung Kawi dan Diarik Pare.
Untuk
menghadapi perlawanan PETA di bawah pimpinan Supriyadi, Jepang mengerahkan semua
pasukannya dan mulai memblokir serta mengepung pertahanan pasukan PETA
tersebut. Namun, pasukan Supriyadi
tetapi bertahan. Mengingat semangat,
tekad, dan keuletan
pasukan Supriyadi
dan Muradi tersebut, maka Jepang mulai menggunakan tipu muslihat. Komandan
pasukan Jepang Kolonel Katagiri berpura-pura menyerah kepada pasukan
Muradi. Kolonel Katagiri kemudian bertukar pikiran dengan anggota pasukan PETA
dengan lemah lembut, penuh kecantunan, sehingga hati para pemuda yang telah
memuncak panas itu bisa membalik menjadi dingin kembali.
Kolonel Katagiri berhasil
mengadakan persetujuan dengan mereka Para pemuda PETA yang melancarkan serangan
bersedia kembali ke daidan beserta senjata-senjatanya. Katagiri menjanjikan,
bahwa segala sesuatu akan dianggap soal interen daidan, dan akan diurus oleh
Daidanco
Surakhmad.
Mereka akan diterima kembali dan tidak akan dibawa ke depan pengadilan militer.
Dengan hasil kesepakatan itu, maka pada satu hari kira kira pukul delapan malam
Suodanco Muradi tiba bersama pasukannya
kembali ke daidan. Di sini sudah berderet barisan para perwira di bawah
pimpinan Daidanco
Surahmad.
Sejenak kemudian Shodanco Muradi maju, lapor kepada Daidanco Surakhmad, bahwa pasukannya telah
kembali. Mereka juga menyatakan menyesal atas perbuatan melawan Jepang dan
berjanji untuk setia kepada kesatuannya. Mereka tidak menyadari bahwa telah
masuk perangkap, karena dari tempat tempat yang gelap pasukan Jepang telah
mengepung mereka. Mereka
kemudian dilucuti senjatanya dan ditawan, diangkut ke Markas Kempetai Blitar. Ternyata Muradi yang
sudah menyerah tetap
diadili dan dijatuhi hukuman mati.
Kekuatan PETA ini di bawah Supriyadi ini semakin lemah. Tidak terlalu
lama akhirnya perlawanan PETA di Blitar dI bawah pimpinan Supriyadi ini dapat
dipadamkan. Tokoh-tokoh
dan anggota PETA yang ditangkap kemudian diadili di depan Mahkamah Militer
Jepang di Jakarta. Setelah Melalui beberapa kali persidangan,
mereka kemudian dijatuhi hukuman semai dengan peranan masing-masing dalam
perlawanan itu. Ada yang mendapat pidana mati, ada yang seumur hidup, dan
sebagainya. Mereka yang dipidana mati antara lain, dr. Ismail. Muradi yang
sudah disebutkan di atas. Sparyono, Halir Mangkudijoyo, Sunamo, dan Sudarno. Sementara itu, SupriyadI tidak jelas beritanya
dan tidak disebut-sebut
dalam pengadilan tersebut.
agak ngak jelas sih....
BalasHapustapi membantu banget...
thanks.. ya....
Cuman copas buku cetak sejarah
BalasHapus