Selasa, 14 November 2017

Pengaruh Pendudukan Jepang di Jambi

2Pengaruh Pendudukan Jepang di Jambi
A.     Menjelang Jepang Datang
Sebelum Perang Asia Timur Raya meletus, keadaan Pemerintah Hindia-Belanda di daerah Jambi, tidak banyak mengalami perubahan. Pulau Sumatera pada waktu Jepang masuk ke Indonesia dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal yang membawahi sepuluh keresidenan. Masing-masing keresidenan dipimpin oleh seorang Residen. Kesepuluh keresidenan tersebut adalah sebagai berikut ;
1.      Keresidenan Aceh (Kutaraja)
2.      Keresidenan Tapanuli Sibolga)
3.      Keresidenan Sumatra Timur (Medan)
4.      Keresidenan Riau Tanjung (Pinang)
5.      Keresidenan Jambi (Jambi)
6.      Keresidenan Sumatra Barat (Padang)
7.      Keresidenan Palembang (Palembang)
8.      Keresidenan Bengkulu (Bengkulu)
9.      Keresidenan Lampung (Teluk Betung)
10.  Keresidenan Bangka dan Belitung (Pangkal Pinang)
Residen Jambi berkedudukan di Kota Jambi, yang di dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh dua (2) orang Asisten Residen. Asisten Residen ini pada dasarnya merupakan Wakil Residen dalam mengkoordinasi beberapa onder afdeling. Selain itu pada kantor keresidenan, seorang Residen dibantu oleh sekretaris keresidenan, yang membawahi beberapa orang komisaris, yang kebanyakan terdiri dari orang Belanda. Pegawai-pegawai rendahan seperti klerk dan bawahan-bawahannya diisi oleh orang-orang Indonesia. Struktur Keresidenan Jambi adalah sebagai berikut ;
1)    Keresidenan Jambi ketika itu mengenal dua (2) Asisten Residen, yaitu :
1.      Asisten Residen Bangko
2.      Asisten Residen Ilir
2)    Asisten Residen Bangko, membawahi empat (4) onder afdeling, yaitu :
1.      Onder afdeling Muara Tebo
2.      Onder afdeling Muara Bungo
3.      Onder afdeling Sarolangun
4.      Onder afdeling Bangko
3)    Asisten Residen Ilir, membawahi tiga onder afdeling, yaitu :
1.      Onder afdeling Jambi
2.      Onder afdeling Muara Tembesi
3.      Onder afdeling Taman Rajo Tungkal Ulu
4)    Sedangkan onder afdeling Kerinci ketika itu tidak lagi masuk ke dalam Keresidenan Jambi, dan sejak tahun 1922 dimasukkan ke dalam Keresidenan Sumatra Barat.Daerah onder afdeling ini dikepalai oleh kontrolir. Semua kontrolir di daerah Jambi terdiri dari orang-orang Belanda. Dalam menjalankan tugasnya kontrolir dibantu oleh Demang (districthoofd), dan Asisten Demang (onderdistricthoofd). Demang dijabat oleh pribumi.
Demang dibantu oleh seorang juru tulis, klerk, magang, opas, mantri belesting, dan mantri polisi. Sedangkan Asisten Demang dibantu oleh seorang seorang juru tulis, seorang magang, dan seorang opas. Untuk menjalankan pemerintahan desa atau marga, maka Asisten Demang dibantu oleh Pasirah Kepala Marga. Di Kerinci pemerintahan desa ini disebut mendapo atau kemendapoan, yang dikepalai oleh Kepala Mendapo. Pasirah Kepala Marga dan Kepala Mendapo ini mengkoordinasi unit pemerintahan yang terkecil yakni dusun atau kampung.
Dari uraian di atas jelas bahwa jabatan kontrolir ke atas, semuanya dipegang oleh orang-orang Belanda (Europese Bestuur Ambtenaren). Sedangkan dari Demang (districthoofd) ke bawah digolongkan kepada jabatan yang boleh diduduki oleh bumi putra atau inlandse Bestuur Ambtenaren.Sebenarnya pada masa ini, pemerintahan marga di daerah Jambi sudah harus mempunyai raad yang disebut Marga Raad seperti diatur dalam IGOB, dan di kota-kotaonder afdeling ada locale-raad, yang diketuai oleh Kontrolir, dan Jambi raad untuk mendampingi residen, yang anggota-anggotanya ditunjuk oleh residen dan disetujui oleh Gubernur Sumatra. Namun sampai saat keruntuhan pemerintahan Hindia-Belanda di daerah ini dewan-dewan atau raad tersebut tidak pernah terlaksana pembentukannya.
Pada masa itu semua kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan pemerintahan, sosial, ekonomi diatur, dikuasai dan dilaksanakan oleh aparat pemerintahan marga raad, locale raad, dan gementee raad tidak pernah dilaksanakan pembentukannya oleh Belanda.Dengan tiada dibentuknya marga raad, maka untuk menyelesaikan persoalan berat yang dihadapi pemerintah dan rakyat di daerah maka kontelir yang biasanya mengadakan satu sidang atau musyawarah untuk anggotanya terdiri dari Demang, Asisten Demang, Pasirah Kepala Marga atau Kepala Kemendapoan, dan Kepala Kampung, atau Kepala Dusun.
A.     Propaganda Jepang
Jepang telah mempunyai persiapan yang cukup matang untuk menghadapi Belanda di seluruh Indonesia termasuk tentunya daerah Jambi. Sebelum tentara Jepang masuk, radio Jepang telah terlebih dahulu melancarkan serangan propaganda terhadap Belanda. Pada tiap permulaan dan penutupan siarannya, radio Jepang menyiarkan lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”. Dalam siaran radio propaganda Jepang dalam bahasa Indonesia menyiarkan bahwa Perang Asia Timur Raya, untuk mengusir penjajah Belanda yang sudah bercokol tiga ratus lima puluh tahun lamanya. Tujuan Perang Asia Timur Raya, yang dilakukan Dai Nippon adalah untuk kemerdekaan Indonesia dan kemakmuran rakyat Indonesia. Dai Nippon mengajak rakyat Indonesia untuk bersama-sama bangkit menghancurkan penjajahan, dengan semboyan “Asia untuk bangsa Asia”. Siaran radio Jepang ini oleh rakyat di daerah yang mempunyai radio, disebarluaskan pula kepada rakyat yang tidak mendengarnya.
Di Kota Jambi dan Sungai Penuh Kerinci, di mana penduduk sudah ada mempunyai radio, propaganda Jepang lebih dahulu masuk dan tersiar serta menyebar di kalangan penduduk. Rakyat banyak yang belum mempunyai radio, mengetahui propaganda-propaganda Jepang melalui penduduk yang mempunyai radio dan mengetahui propaganda itu. Di Sungai Penuh, Tuan Niko, seorang fotograp yang bergaul baik dengan rakyat setempat turut menyebarkan apa yang diketahuinya dari radio Jepang kepada penduduk.Dengan adanya propaganda-propaganda Jepang melalui radio, dan kemudian oleh rakyat turut disebarluaskan, maka rakyat di daerah secara spontan menanggapinya dengan perasan lega, bahwa Jepang akan mengusir Belanda.
Ketika tentara Jepang masuk ke daerah ini propaganda-propaganda Jepang terus berlangsung. Kepada penduduk dikabarkan Jepang adalah saudara tua yang akan membantu rakyat, dan dijanjikan pula oleh Jepang bahwa barang-barang akan menjadi murah.Sudah tentu di kalangan penduduk Jambi ketika itu ada yang terbius oleh propaganda Jepang, dan menyanjung-nyanjung Jepang setinggi langit, tetapi ada juga yang menerima propaganda Jepang tersebut secara wajar, dan tetap mempunyai semangat nasionalisme, dan patriotisme bangsa Indonesia, yang berkeyakinan bahwa kemerdekaan Indonesia hanya dapat diperoleh dengan kekuatan sendiri.
B.     Waktu Kedatangan Jepang
Adapun tentara angkatan darat Jepang dipimpin oleh Kolonel Namura, masuk ke daerah Jambi melalui daerah Palembang dan Padang. Palembang jatuh ke tangan tentara Jepang pada tanggal 14 Februari 1941. Dari Palembang tentara Jepang menyerbu masuk Lubuk Linggau, yang jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 21 Februari 1942. Setelah Jepang menduduki Muara Rupit tanggal 23 Februari 1942, kemudian diikuti Sarolangun Rawas pada tanggal 24 Februari 1942, tentara Jepang menyerbu masuk wilayah daerah Jambi.
Dari daerah Palembang tersebut di atas, serbuan tentara Jepang di arahkan ke Sarolangun Jambi, dan dapat diduduki tanggal 23 Februari 1942. Sehari kemudian Bangko dan Rantau Panjang diduduki pula. Kemudian Muara Bungo diserang oleh Belanda dan setelah pertempuran sehari semalam dengan pasukan Belanda, tanggal 28 Februari dapat diduduki oleh Jepang. Sedangkan Muara Tebo, baru diduduki tentara Jepang tanggal 4 Maret 1942. Di Muara Tebo tentara Jepang dibagi atas dua bagian, satu bagian bertugas untuk menyerang Kota Jambi, pusat pemerintahan dan sebagian lagi untuk menyerang pertahanan tentara Belanda di Pulau Musang. Dalam pertempuran di Pulau Musang Kolonel Namura sendiri tewas, dan tentara Jepang di bawah pimpinan Kapten Oreta dapat menduduki Jambi pada tanggal 4 Maret 1942.
Padang diduduki Jepang pada tanggal 17 Maret 1942. Setelah itu daerah Kerinci dimasuki dan diduduki oleh tentara Jepang yang datang dari Padang.Kedatangan Jepang, pada umumnya disambut dengan perasaan lega dan puas. Rakyat Jambi puas melihat orang-orang dan tentara Belanda melarikan diri, dan banyak rakyat turut serta merampas harta kekayaan orang-orang Belanda yang melarikan diri. Jepang sudah tentu pada hari-hari pertama pendudukannya tidak bersikap keras kepada penduduk. Penduduk yang merampas barang-barang milik Belanda oleh Jepang diminta untuk mengembalikannya di pinggir-pinggir jalan, yang oleh sebagian rakyat dituruti, dan ternyata dikumpulkan oleh tentara Jepang untuk keperluan dan kebutuhan mereka.
D.Sikap Jepang Terhadap Belanda
Setelah di seluruh daerah Jambi dapat dikuasai oleh Jepang dalam waktu yang sangat singkat, maka pada tanggal 10 Maret 1942, disusunlah pemerintahan oleh badan tentara Jepang. Pada dasarnya susunan ketatanegaraan Belanda masih tetap dipertahankan, dengan perubahan-perubahan kecil antara lain perubahan nama dan istilah yang diganti dengan nama atau istilah Jepang.       Semua istilah pemerintahan diganti dalam bahasa Jepang. Keresidenan ditukar dengan syu, residen disebut syucokan, afdeeling disebut bunsyu yang dikepalai oleh bunsyu-co, onder-afdeeling ditukar dengan gun. Dengan demikian pada masa Jepang di Jambi, Syucokan membawahi enam Bunsyu-co­ yaitu :
1.      Bunsyu-co Bungo berkedudukan di Muara Bungo
2.      Bunsyu-co Tebo berkedudukan di Muara Tebo
3.      Bunsyu-co Tungkal berkedudukan di Kuala Tungkal
4.      Bunsyu-co Tembesi berkedudukan di Muara Tembesi
5.      Bunsyu-co Sarolangun berkedudukan di Sarolangun
6.      Bunsyu-co Bangko berkedudukan di Bangko
Sedangkan Bunsyu-co Kerinci termasuk Sumatra Barat syu, maka Bunsyu-co Kerinci berada dibawah Syu-Cokan Sumatra Barat.Setiap Bunsyu-co sebagai pengganti kontelir, membawahi beberapa demang yang disebut Gun-co. Kemudian Gun-co membawahi pula Fuku gun-co. Aparat selanjutnya adalah marga di Jambi dan mendapo di Kerinci.
Dalam pelaksanaan pemerintahan, Jepang mengganti semua orang Belanda (Europese Bestuur Ambtenaren) dengan personal-personal Jepang, sedangkan untuk jabatan ­gun-co ke bawah Jepang tetap menggunakan tenaga-tenaga bumi putra. Karena pejabat-pejabat Belanda sudah dicopot, sedangkan pejabat-pejabat Jepang tidak paham berbahasa Indonesia, maka di kantor-kantor pejabat-pejabat Indonesia pada realitasnya adalah wakil pejabat Jepang. Mereka bekerja bersama Jepang tetapi saling mencurigai, dan oleh karena itu suasana kegelisahan dan kekhawatiran meliputi pejabat-pejabat bumi putra. Hal ini disebabkan karena sedikit kesalahan dan kelalaian dapat berakibat fatal bagi mereka, sebab Jepang terkenal ganas
C.     Sikap Jepang Terhadap Bangsa Indonesia
Sikap Jepang terhadap bangsa Indonesia banyak ditentukan oleh keadaan perang dan segenap keperluan dan kebutuhan yang berkaitan dengan perang itu yaitu Jepang memerlukan tenaga manusia, bahan makanan, dan bahan-bahan vital keperluan perang seperti minyak bumi.Karena kebutuhan minyak bumi sangat diutamakan Jepang, maka instalasi minyak di Kenali Asam, Tempino, dan Bajubang dapat diperbaiki oleh Jepang. Karena bumi hangus yang kurang sempurna sewaktu Belanda merenggutkannya.
Memang pada hari-hari permulaan datangnya tentara Jepang, tindakan kejam terhadap rakyat tidak dilakukan oleh Jepang. Tetapi lama-kelamaan, rakyat dipaksa untuk memenuhi kebutuhan perang tentara Jepang, seperti menanam biji-biji jarak di pinggir jalan, dan membuat lubang-lubang pertahanan. Pohon-pohon karet banyak yang ditebang, rakyat diperintahkan untuk menanam padi, jagung, ubi dan bahan pangan lainnya untuk keperluan Jepang, bahkan pangan yang ada di tangan rakyat sekalipun harus diserahkan kepada Jepang.
Dalam pada itu Jepang menghambur-hamburkan uang kertas Jepang sebagai pengganti mata uang Belanda, akibatnya harga barang-barang menjadi naik. Harga pangan di luar jangkauan daya beli rakyat, apa lagi harga sandang.
Kemakmuran yang dijanjikan Jepang ternyata bagi rakyat Jambi adalah kemiskinan dan kelaparan. Karena kemiskinan rakyat tak dapat membeli sandang terutama pangan. Ketika ini rakyat banyak yang memakai goni sebagai pakaian. Bahaya kelaparan sebagai akibat tindakan dan sikap Jepang timbul di mana-mana, dan tidak sedikit yang meninggal dunia. Orang yang meninggal dunia dikafani dengan tikar.
Di samping itu Ken-pei-tai menyebarkan mata-mata dan kaki tangan yang juga disebut Ken-pei-ho di mana-mana, penduduk yang dicurigai ditangkap dan disiksa oleh Ken-pei-tai.
Kemudian tenaga rakyat juga dikerahkan untuk keperluan perang Jepang. Romusya dan Kinrohosyi, paling ditakuti dan mengerikan buat rakyat Jambi. Karena rakyat yang masuk Romusya dikerjakan secara paksa dan dikirim ke Burma, sedangkan masuk Kinrohosyi juga berarti ke luar daerah Jambi untuk bekerja secara paksa demi kepentingan tentara Jepang, rakyat Jambi yang terkena Kinrohosyi dipekerjakan membangun lapangan terbang di Palembang.
Selain Romusya dan Kinrohosyi, rakyat juga dikerahkan menjadi Heiho, Gyu Gun, yakni pasukan militer yang diperbantukan pada tentara Jepang, untuk pertahanan lokal, Jepang juga membentuk ­Sei-nen-dan, Bo-go-dang, dan Jei-ge-dang, yang semuanya dipaksakan kepada rakyat.
Adapun Hei Ho yakni pasukan militer yang akan bertugas membantu tentara Jepang, terdiri atas dua angkatan. Angkatan pertama dididik enam puluh orang pemuda daerah ini, dan dari angkatan pertama ini tiga puluh orang lagi di Payakumbuh, angkatan kedua juga terdiri dari enam puluh orang, dan dari angkatan kedua ini, tiga puluh orang mendapatkan latihan Hei Ho, di Plaju, Palembang, dan selebihnya mendapat latihan di Bengkulu.
Sedangkan latihan-latihan Gyu-gun, Sei-nen-da, Bo-Godang, Jei ge dang dilakukan di Jambi. Pada hakikatnya Jepang, dengan adanya latihan-latihan militer ini telah pula secara tidak sengaja membekali rakyat daerah ini dengan pengetahuan militer.
Sikap Bangsa Indonesia Terhadap Jepang
Pada mulanya sikap bangsa Indonesia menerima dengan wajar dan gembira kedatangan Jepang, namun setelah kekejaman fasis Jepang yang menimbulkan kesengsaraan yang luar biasa maka timbullah kembali hasrat akan memerdekakan Indonesia.
Pemuda rakyat yang sudah dilatih Jepang dalam Heiho, Gyu gun, Sei-nen-dan, Bo-go-dang, Jei-ge-dang, turut merasakan penderitaan rakyat dan penduduk sebagai akibat dari segala macam tindakan pihak Jepang berupa penindasan, perkosaan, dan sebagainya menjadi modal perlawanan atau pemberontakan di mana-mana terhadap Jepang. Rakyat sebenarnya sudah mengadakan persiapan secara diam-diam, kemudian secara terang-terangan. Dengan demikian pemberontakan-pemberontakan yang ditujukan kepada kekuasaan pemerintah militer Jepang dilakukan baik oleh rakyat maupun oleh unit-unit bersenjata yang pernah mendapat latihan Jepang maupun oleh kedua-duanya secara bersama-sama. Perlawanan dan pemberontakan ini terjadi di antaranya di Muara Bungo, Bajubang, dan sebagainya.
Kegiatan ini mencapai klimaks setelah tersiar kabar Jepang menyerah kalah pada tanggal 14 Agustus 1945 yang diikuti dengan Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta, pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi diketahui oleh rakyat di daerah Jambi pada tanggal 18 Agustus 1945, melalui telepon dari A.K. Gani di Palembang.
Di Muara Bungo, pemuda-pemuda menyusun organisasi untuk menjaga keamanan umum. Badan Penjaga Keamanan telah berdiri sejak 16 Agustus 1945 diketuai oleh Haji Badaruddin Yahya mengambil alih kekuasaan dari Jepang. Beberapa orang Jepang yang menghalang-halangi digempur oleh pemuda. Harta benda dan senjatanya diserahkan kepada negara. Persiapan minyak yang disimpan Jepang untuk keperluan perangnya diambil alih dan digunakan untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan.
Di Kerinci perlawanan rakyat sesudah Proklamasi dilakukan karena kebencian yang mendalam terhadap Jepang yang bertindak sewenang-wenang selama pendudukan, dengan tekad untuk merdeka dan berdaulat. Serangan rakyat dilakukan terhadap markas Jepang di muka lapangan merdeka, Sungai Penuh. Para pemimpin dari perlawanan rakyat Kerinci ini antara lain A. Thalib, KH. Adnan Thaib, KH. Janan Thaib Bakri, H. Mukhtaruddin, dan H. Ridwan.
Di daerah-daerah lain di mana Jepang dengan suka rela menyerahkan kekuasaannya tidak terdapat perlawanan atas perebutan kekuasaan. Kalahnya Jepang dari sekutu dalam Perang Asia Timur Raya membuka Pintu Kemerdekaan Indonesia yang menjadi cita-cita Pergerakan Nasional Indonesia.
Jepang Masuk
Struktur dan aparat pemerintah Hindia-Belanda di daerah Jambi seperti tersebut di atas, ketika Perang Dunia II, dan sebelum Perang Asia Timur Raya meletus dihadapkan kepada kedua tantangan kenyataan, yang timbul pada saat itu yakni ;
1.      Kenyataan dari perkembangan pergerakan nasional di daerah.
2.      Ancaman serbuan tentara Jepang ke daerah ini, yang di dahului dengan propaganda-propagandanya menakutkan Belanda.
Jauh sebelum Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 dalam perundingan di Kalijati, Bandung, tentara selatan Jepang telah menguasai Singapura. Setelah menguasai Singapure maka Jepang menempatkan Singapura sebagai pusat tentara selatan (Nampo Gun) dibawah komando Jenderal Trauchi Hisoichi.
Salah satu kesatuan bawahan tentara selatan adalah Tentara Keenam Belas yang wilayah operasinya adalah daerah Hindia Belanda. Komandan tentara Keenam Belas adalah Imamora Hitochi. Tentara Keenam Belas terbagi ke dalam divisi dengan wilayah operasinya masing-masing. Divisi ke-38 terdapat satu brigade yang ditugaskan mendarat di Palembang dan sekitarnya termasuk daerah Jambi.
Jepang masuk dan mulai menguasai Jambi pada tanggal 4 Maret 1942. Menurut penuturan masyarakat kehadiran Jepang di kota Jambi lama sekali tidak ada perlawanan dari Belanda. Sebelum Palembang jatuh ke tangan Jepang tanggal 14 Pebruari 1942, Belanda telah meninggalkan kota Jambi menuju pulau Jawa (Batavia). Sedangkan rakyat Jambi sendiri sebagai akibat penjajahan Belanda tidak lagi memiliki institusi/ kelembagaan yang mampu menghimpun perjuangan rakyat seperti zaman Sultan Thaha Syaifuddin, yang ada adalah institusi pemerintahan adat yang dipegang oleh priayi dan pegawai negeri (ambtenar). Keadaan inilah yang melapangkan jalan masuknya tentara Jepang dapat dengan mudah mengambil alih pemerintahan Hindia Belanda di Jambi. Namun demikian ada juga perlawanan rakyat Jambi menentang tibanya Jepang. Peperangan hebat terjadi di sekitar Pulau Musang. Tetapi karena memiliki persenjataan yang kurang, maka perlawanan ini tidak berarti penting karena itu dengan mudah dapat dipatahkan Jepang.
Setelah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, maka pihak Jepang melakukan reorganisasi tentara selatan (Nampo Gun). Jepang membentuk tiga Human Gun (tentara wilayah). Satu untuk Birma, satu untuk Indonesia dan satu lagi untuk Malaya. Pasukan Jepang di pulau Sumatra di bawah komando tentara Kedua Puluh Lima. Pembagian wewenang terhadap wilayah Indonesia, dibagi sebagai berikut ;
1.      Angkatan darat oleh tentara Kedua Puluh Lima dan tentara Keenam Belas yang punya wewenang atas pulau Sumatra dan Jawa.
2.      Angkatan laut oleh Armada Ketiga (Armada Wilayah Barat daya) atau Nansei Human Kintai, punya wewenang atas pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian.
Kemudian Jepang setelah menguasai seluruh Wilayah Hindia Belanda, maka pemerintahan Militer Jepang membagi Indonesia Ke dalam 3 wilayah pemerintahan Militer yang berbeda yakni ;
1.      Wilayah Sumatra dikuasai Angkatan Darat (Rikugun) oleh Komando tentara Kedua Puluh Lima, pusatnya di Bukit Tinggi.
2.      Wilayah Jawa dan Madura dikuasai oleh Angkatan Darat oleh Komando tentara Keenam Belas, pusatnya di Jakarta.
3.      Wilayah Kalimantan dan Indonesia Timur dikuasai oleh Angkatan Laut (Kaigun) pusatnya di Makasar.
Masyarakat Jambi mungkin termasuk lebih dahulu mengetahui kehadiran Jepang di Asia Tenggara, karena sifat dagangnya yang banyak bepergian ke Singapura dan Malaya. Rakyat Jambi sama seperti masyarakat lain di Indonesia tidak gelisah, tidak juga cemas, dan juga tidak khawatir tentang kabar bahwa Jepang sebentar lagi akan menguasai pulau Sumatra. Diakui bahwa rakyat Jambi ada dendam kesumat terhadap Belanda dan ingin agar Belanda lari dari Jambi. Terlebih lagi di tengah masyarakat berkembang pendapat bahwa kehadiran Jepang tidak untuk menjajah, melainkan untuk membebaskan saudara-saudaranya bangsa Asia dari belenggu penjajahan bangsa Barat dan bersama-sama dengan Jepang membentuk kemakmuran bersama di lingkungan Asia Timur Raya.
Sebelum tahun 1942 di tengah-tengah masyarakat Jambi memang telah ada orang Jepang sebagai buruh, pedagang, petani, dan membuka usaha perbengkelan. Mereka itu (orang Jepang) dalam jumlah terbatas, umumnya kaum pria. Belanda mengakui keberadaan mereka Jambi sebagai warga Timur Asing. Menurut cerita dari mulut kemelut pada waktu tentara Jepang masuk ke Jambi ternyata masih ada penduduk yang mengenali orang Jepang itu telah memakai seragam militer.
Lain lagi dengan Belanda yang sangat cemas mendengar kabar sebentar lagi Jepang akan tiba di Jambi. Kecemasan dan kegelisahan Belanda ini ternyata mudah diketahui oleh rakyat Jambi, sebab Belanda telah gelisah sedangkan rakyat hanya biasa saja. Dalam suasana yang cemas, gelisah, dan khawatir itu maka Belanda masih sempat menebarkan propaganda murahan kepada rakyat di desa-desa, bahwa ;
1.      Bahwa tentara Jepang itu sangat ganas terhadap kaum wanita.
2.      Bahwa tentara Jepang suka merampas padi, beras, dan ternak penduduk.
Ketakutan dan kecemasan Belanda menjelang tibanya Jepang di Jambi adalah satu kenyataan yang logis. Selama Belanda berkuasa di Indonesia, ternyata Belanda tidak membangun pasukan tempur yang memiliki persenjataan lengkap. Tetapi Belanda hanya memiliki pasukan kecil tentara dan kepolisian dalam negeri yang ditujukan untuk menumpas pemberontakan oleh pejuang-pejuang pribumi. Sedangkan Jepang memiliki segalanya yaitu pasukan tempur yang hebat. Sebagai persiapan menunggu tibanya tentara Jepang, maka Belanda memerintahkan rakyat Jambi untuk :
1.      Rakyat di pedesaan diperintahkan agar masing-masing membuat kebun ubi, jagung, pisang, sebagai persiapan bahan makanan dalam menghadapi Jepang nantinya.
2.      Rakyat di pedesaan diperintahkan agar masing-masing membuat rumah talang di dalam kebun berjarak ± 3 km dari desa, sebagai persiapan menyingkir bila Jepang masuk.
Pemerintahan Jepang
Pemerintahan militer Jepang di Jambi tidak banyak berbeda dengan struktur pemerintahan Keresidenan Jambi yang dibentuk oleh Belanda. Pemerintahan militer Jepang di Sumatra disebut Gunsereikan yang kemudian di sebut Saiko Sikikan. Pemerintahan diselenggarakan oleh kepala staf yang disebut Gunseikan. Organisasi pemerintahan disebut Gunseibu yang berpusat di Singapura. Azas pemerintahan militer Jepang adalah dekonsentrasi. Bagan atau lembaga pemerintahan Jepang di daerah Jambi adalah sebagai berikut
Lembaga Pemerintahan Jepang Di Jambi
No
BELANDA
JEPANG
ORGANISASI
PEJABAT
ORGANISASI
PEJABAT
1
Keresidenan Jambi.
Rest en dan Asistett residen (orang- Belanda).
Jambi -Syuu.
Syuucokan.
2
Afdeling (semacam kabupaten).
Gontroleur (orang Belanda),
Buu-Syuu (Kabupaten),
Buusyuuco (Pribumi).
3
Order afdeling (semacam kawasan).
Demang (Pribumi).
Gun-Syuu (Pribumi).
Guu-co (Pribumi).
4
Distrik Adat Ander Distrik.
Asisten Demang (Pribumi)
Fukugun (Distrik Adat) KU (Marga)
Fukugunco (Pribumi) Kunco
5
Marga, Dusun/Mendapo /Kampung
Pasirah, Rio/Penghulu
Son (Dusun)
(Pribumi) Sanco (Pribumi)
Dalam Pemerintahan militer, terpisah dengan pemerintahan sipil. Kepolisian, Jambi-Syuu dikepalai oleh seorang Keimubuco, dijabat oleh orang-orang Jepang. Di setiap gun dibentuk pula kepolisian (Kaisatsu) yang dipimpin oleh orang, Jepang dengan pangkat Kaisatsuco dan wakilnya adalah orang pribumi. Pemerintahan Jambi Syuu dibantu penyelenggaraannya oleh kepala pemerintahan umum (Somubuco), kepala perekonomian (Keizabuco), dan kepala kepolisian (Keimubuco). Dikutip dari buku “Tentara Peta” karangan Nugroho Notosusanto (1979), satu dokumen konferensi penghubung antar markas besar kemaharajaan dan kabinet pada tanggal 20 November 1941, antara lain disebutkan sebagai berikut.
1.      Sasaran pemerintahan-pemerintahan militer adalah
                                          I.  Memulihkan ketertiban umum.
                                       II.  Mempercepat penguasaan sumber-sumber yang vital bagi pertahanan Nasional.
                                     III.  Menjamin berdikari di bidang ekonomi bagi personil militer.
                                    IV.  Status terakhir wilayah-wilayah yang diduduki dan pengaturannya di masa depan akan ditentukan secara terpisah.
                                       V.  Dalam pelaksanaan pemerintahan militer, organisasi-organisasi pemerintahan yang ada akan dimanfaatkan sebanyak mungkin dengan menghormati struktur organisasi yang lampau dan kebiasaan-kebiasaan pribumi.
                                    VI.  Penduduk pribumi akan dibina sedemikian rupa sehingga mempunyai kepercayaan kepada pasukan-pasukan Kemaharajaan dan penggairahan secara prematur daripada gerakan-gerakan kemerdekaan pribumi harus dihindari.
Untuk menghadapi perang, Asia Timur Raya melawan sekutu, maka kebijaksanaan Jepang terhadap wilayah pendudukan bermuara kepada pemenangan perang. Sehingga wilayah pendudukan dieksploitasi sedemikian agar mendukung perang melawan sekutu. Semua potensi sosial, ekonomi, budaya, kepercayaan, lembaga dan potensi lainnya dimanfaatkan Jepang untuk kepentingan militer. Pemerintahan militer Jepang memanfaatkan tenaga pribumi untuk duduk dalam pemerintahan sipil. Dalam buku sejarah pemerintahan daerah tingkat I Jambi (belum diterbitkan). Jepang mengikutsertakan penduduk Jambi untuk duduk dalam pemerintahan antara lain sebagai berikut ;
1.      St. Sulaiman sebagai Gunco Sarolangun.
2.      R. Supirman, sebagai Gunco Bangko.
3.      Kiagus M. Amin, sebagai Gunco Muara Bungo.
4.      R. Syahbuddin sebagai Gunco Muara Tebo.
5.      Zainal Basri, sebagai Gunco Muara Tungkal.
6.      M. Bahsan Siagian, sebagai Gunco Kuala Tungkal.
7.      Sutan Parendangan, sebagai Gunco Jambi.
8.      Teuku Muhammad Insya, sebagai Wakil Keimbuco dengan pangkat kepolisian, Keisyi.
9.      Manaf, sebagai Staf Keimubuco dengan pangkat kepolisian Keibu.
10.  Latif, sebagai staf Keisatsuco dengan pangkat kepolisian Kaibuho.
11.  Jahari, sebagai wakil Keisatsuco Soralangun gun dengan pangkat kepolisian Keibu.
12.  R. Syarif, sebagai wakil Kaisatsuco Muara Bungo gun dengan pangkat polisi Keibu.
13.  M. Kuris, sebagai wakil Kaisatsuco Muara Tebo gun dengan pangkat kepolisian Kaibuho.
14.  Darwis, sebagai wakil Keisatsuco Muara Tembesi gun dengan pangkat kepolisian Keibuho.
15.  Supardjo, sebagai Keisatsuco Kuala Tungkal gun dengan pangkat kepolisian Keibuho.
16.  Hasan St. Palindih, sebagai wakil Keisatsuco Kuala Tungkal gun dengan pangkat kepolisian Keibu.
Untuk merekrut tenaga kerja / pegawai pemerintahan yang memenuhi persyaratan, maka Jepang mendirikan sekolah khusus/semacam kursus dinas C, yakni Samarora Koa Kurensho di Batu Sangkar. Alumni sekolah ini dipersiapkan Jepang untuk menjadi kader pemimpin pemerintahan/pegawai negeri yang disebut Katsuri, dengan pangkat Kuco, setingkat camat. Belum diketahui berapa jumlah pemuda Jambi yang mendapat pendidikan di sekolah ini.
Latihan Militer
Pada masa pemerintahan Belanda, memang ada putra Jambi yang direkrut oleh Belanda di bidang ketentaraan yakni dalam dinas Marsose. Jumlahnya sangat terbatas yang bertujuan untuk pecah-belah dalam menghadapi perlawanan rakyat. Tetapi Jepang dalam memberikan latihan militer kepada pribumi bertujuan lain dari Belanda, yakni untuk mobilisasi pemuda-pemuda dalam perang melawan sekutu. Di pulau Sumatra, termasuk Jambi maka Jepang menghimpun pemuda dalam latihan militer seperti Gyugun (Tenaga sukarela), Kaygun (Angkatan Laut), Heiho (Pembantu Prajurit), Kempeitai (Polisi Militer), Seinendan (Barisan Pemuda), Keibodan (Barisan Pemuda Polisi), Jibakutai (Barisan Berani Mati), Romusha (Pekerja Paksa), dll. Berikut ini nama-nama pemuda Jambi ang direkrut jepang untuk menjadi Gyu-gun, Heiho atau pembantu prajurit, Kaygun atau angkatan laut, kepolisian, dan Kempetai adalah sebagai berikut ;
1.      Pemuda Jambi dikirim ke Pagar Alam untuk ikut latihan militer Gyu-gun selama 3-4 bulan. Mereka yang mendapat latihan militer Nanbu Sumatora Gyukanbu Kohose antara lain adalah sebagai berikut ; 
1)        Abunjani, pangkat Shoi.
2)        Ahmad Marzuki, pangkat Shoi.
3)        Haji Ibrahim, pangkat Yun-i.
4)        Zainal Riva’i, pangkat Shoi.
5)        Switar Mahyuddin, pangkat Shoi.
6)        Mahyuddin, pangkat Shoi.
7)        lsmail Ripin, pangkat Shoi.
8)        M. Thaib RH, pangkat Soco.
9)      Buyung Malik, pangkat Soco.
10)    H. Teguh, pangkat Suco.
11)    Ramli Umar, pangkat Suco.
12)    R.A. Rahman Kadipan, pangkat Soco.
13)    R.A. Rahman, pangkat Gunsho.
14)    Darham, pangkat Soco.
15)    Mahidin, pangkat Soco.
16)    Ismail Malik, pangkat Gunsho.
17)    Lebai Hasan, pangkat Gunsho.
18)    Said Abdullah, pangkat Gunsho.
19)    Yusup AB, pangkat Gunsho.
20)    A. Somad Gerak, pangkat Gunsho.
21)    A. Thatib, pangkat Gunsho.
22)    M. Thaher, pangkat Gunsho.
23)    Sulaiman Effendi, pangkat Gunshp.
24)    Abu Kasim, pangkat Suco.
25)    Yusuf Didong, pangkat Suco.
26)    A. Rachman Mersam, pangkat Gunsho.
27)    M. Kukoh, pangkat Gunsho.
28)    Jupri, pangkat Gunsho.
29)    Ahmad Pulau Temiang, pangkat Gunsho.
30)    H. Suud, pangkat Gunsho.
31)    Mauti, pangkat Gunsho.
32)    Yakub, pangkat Gunsho.
33)    Zainal, pangkat Gunsho.
34)    M. Amin Mangku, pangkat Gunsho.
35)    M. Noer, pangkat Soco.
36)    A. Khatab, pangkat Gunsho.
37)    Mentadi, pangkat Gunsho.
1.      Pemuda-pemuda Jambi yang direkrut Jepang menjadi Heiho atau Pembantu Prajurit antara lain sebagai berikut ;
                                          I.  Laisa.
                                       II.  Yakup A.
                                     III.  Muhammad Jiha.
                                    IV.  Yakup Yaman.
                                       V.  Arif.
                                    VI.  Hasan.
                                  VII.  Mahmud.
                               VIII.  Ismail Yamin.
                                    IX.  Syukur Pidin.
                                                                   i.  Mat Itik.
                                                                 ii.  Zainal Barhan.
                                                                iii.  Dan lain-lainnya yang belum disebut urutannya.
                                                               iv.  Sedang pemuda Jambi yang mendapat latihan angkatan laut atau Kaygun antara lain adalah sebagai berikut


1)         M. Syukur.
2)         Zakir.
3)         Daud Hasan.
1.      Pemuda Jambi yang ikut latihan kepolisian antara lain adalah sebagai berikut.
1)         Ibrahim Syamsir
2)         Abdul Muluk.
3)         Hamid.
4)         Abu Hasan.
5)         M. Yutar
6)         Kandung.
1.      Pemuda Jambi yang mendapat latihan Kempetai di Plaju/Sungai Gerong, Palembang, antara lain adalah Hoesein Saad.
Kalau di Jawa ada Pembela Tanah Air (PETA) maka di Sumatera, termasuk Jambi ada pula Gyugun dan Heiho yang fungsi dan peranannya sama dengan PETA. Perwira dari Gyugun dan Heiho ini memiliki jenjang kepangkatan sebagai berikut.
1)   Buutaicho (Regu)
2)   Shotaicho (Seksi)
3)   Chutaico (Kompi)
4)   Butaicho (Batalyon)
5)   Rentaicho (Devisi)
6)   Daitaicho (Resimen)
Sedangkan kepangkatan dan struktur Seinendan adalah sebagai berikut.
1)      Dancho (Komandan)
2)      Fukudancho (Wakil komandan)
3)      Komon (Penasehat)
4)      Sanyo (Anggota)
5)      Kanji (Administrasi).
Sosial Keagamaan
Dengan maksud ingin merangkul umat Islam, maka pemerintahan militer Jepang melalui departemen urusan agama (Shumobu) tidak menghalangi kegiatan organisasi Islam. Madjlisoel Islamil A’laa Indonesia (MIAI), Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) tidak dibubarkan. Bahkan Jepang ikut juga mendorong berdirinya organisasi Islam yakni Masyoemi ? (Madjelis Syoero Muslimin Indonesia) pada bulan November 1942. Kemudian Jepang membubarkan organisasi MIAI.
Para ulama Jambi dari setiap gun diambil satu orang untuk berangkat ke Singapore. Mereka dikumpulkan dalam satu seminar mengenai Islam oleh pusat penerangan dari Dai Nippon. Selesai di indoktrinasi para ulama Jambi diberikan sebuah lencana dan diberi kewajiban menyampaikan hasil pertemuan kepada rakyat bahwa tentara Jepang menghormati perkembangan agama Islam di Indonesia. Para ulama di daerah Jambi pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, mereka menghimpun dirinya ke dalam partai politik yakni Partai Masyoemi. Para pemuka agama atau ulama ikut menggalang semangat juang melawan Belanda pada masa agresi militer I dan II.
Kerja Paksa
Di daerah Jambi, rakyat dikenakan wajib bakti atau kerja paksa. Di pulau Jawa dan tempat lain mungkin namanya Romusya, tapi di Jambi kerja paksa ini disebutKendoroshi atau umumnya disebut Kuli Palembang.
Mula-mula rakyat dipaksa mengerjakan atau bergotong-royong. membuat lapangan terbang di Sarolangun, dan jalan jalan yang ada di Jambi. Tapi kemudian dipaksa bekerja ke Palembang untuk membuat jalan dan lapangan terbang.
Di kota Palembang arah ke pasar 16, dekat dengan jembatan Ampera (sekarang) terdapat sebuah jalan yang disebut jalan Tengkuruk. Menurut penuturan masyarakat tengkuruk itu adalah tumpukan tengkorak pekerja paksa. Di sana pekerja paksa kalaupun bisa pulang kembali ke Jambi tidak ubahnya buntang bernyawa. Badan tinggal hanya kulit berkeriput membalut tulang, penuh koreng, kuman, dan borok, dalam keadaan 90% bertelanjang, napas bagaikan nyawa ikan, sulit diajak berbicara, wajah sulit untuk dikenali karena kurusnya. Dari Jambi yang diberangkatkan hanya 50% saja yang dapat kembali lagi ke Jambi. Gambaran pekerja paksa ini diambil dari­ Buku Jambi Dalam Sejarah Karangan Mukti Nazruddin (1989).
Bottom of Form
Top of Form



Tidak ada komentar:

Posting Komentar